Aparat kepolisian dari Polres Metro Jakarta Utara terus mendalami dan menyelidiki dugaan penistaan agama yang terjadi pada gelaran festival musik The Sounds Project di Kawasan Ancol, Jakarta Utara. Kasus dugaan penistaan agama ini menjadi perhatian publik setelah beredarnya rekaman video di media sosial yang memperlihatkan adanya tantangan menghafal Al-Qur'an untuk mendapatkan imbalan berupa minuman beralkohol atau minuman keras di arena festival tersebut.
Mengenai penanganan kasus ini, Kasi Humas Polres Metro Jakarta Utara Iptu Maryati Jonggi Siregar memberikan keterangannya di Jakarta. Ia mengonfirmasi bahwa penyidik hingga saat ini masih mengumpulkan sejumlah barang bukti, terutama yang bersumber dari rekaman video viral yang beredar luas di tengah masyarakat. Pengumpulan barang bukti tersebut merupakan bagian dari serangkaian tindakan kepolisian setelah diterimanya laporan resmi dari pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Mapolrestro Jakarta Utara. Secara lebih rinci, Bendahara MUI Jakarta Utara KH Ali Fahmi mengungkapkan bahwa pelapor yang mengajukan kasus dugaan penistaan agama ini ke Polres Metro Jakarta Utara adalah MUI Kecamatan Pademangan.
Dalam rekaman video yang beredar viral dan kini menjadi bahan penyelidikan polisi, terlihat peristiwa di mana pengunjung festival musik ditantang untuk melafalkan ayat suci. Tantangan hafalan tersebut berlangsung di area stan atau booth minuman alkohol yang bertuliskan "New Port". Pada cuplikan video itu, pengunjung acara diminta untuk menghafalkan surah Ad-Dhuha. Bagi setiap pengunjung yang berhasil menyelesaikan tantangan hafalan Al-Qur'an tersebut, pihak pengada tantangan memberikan hadiah berupa satu botol minuman beralkohol.
Kejanggalan Kematian Sutrimo, Eks Karumga Febrie Adriansyah

Kejadian tersebut langsung mendapat respons keras dari pihak penyelenggara The Sounds Project. Penyelenggara menyatakan turut merasa marah, kecewa, dan mengecam keras perilaku yang beredar dalam video tersebut. Pihak The Sounds Project menegaskan bahwa mereka tidak pernah dan tidak akan pernah membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan tantangan atau promosi produk dalam bentuk apa pun. Penyelenggara juga memperjelas bahwa kegiatan tersebut terjadi di luar sepengetahuan mereka, tanpa adanya arahan maupun persetujuan dari pihak The Sounds Project. Atas insiden ini, pihak penyelenggara telah melayangkan teguran kepada sponsor terkait dan meminta sponsor tersebut menyelesaikan kasus ini hingga tuntas.
Sementara itu, penjelasan dan permohonan maaf juga disampaikan oleh pihak Newport. Direktur Newport, Handoko Sasongko, menyampaikan permohonan maaf pada Selasa (11/8) yang ditujukan kepada seluruh umat Islam, tokoh agama, dan seluruh masyarakat Indonesia. Permohonan maaf tersebut disampaikan atas kejadian yang telah menimbulkan rasa ketidaknyamanan, rasa terluka, dan kegaduhan di tengah publik. Handoko meluruskan bahwa tantangan atau aktivitas tersebut bukan merupakan program, konsep promosi, tantangan, maupun arahan yang dibuat atau direncanakan oleh pihak Newport.
Disbudpar Jatim Resmi Copot Duta Wisata Diduga Paksa Aborsi Pacar

Lebih lanjut, Handoko Sasongko menjelaskan bahwa aktivitas hafalan tersebut sebenarnya muncul secara spontan dari pengunjung yang berada di lokasi festival. Namun, pihaknya menyesali adanya kelemahan dalam hal pengawasan petugas di lapangan saat acara berlangsung. Kelemahan pengawasan tersebut menyebabkan pengunjung di lokasi dapat mengambil alih mikrofon dari pembawa acara atau MC yang bertugas. Atas kelemahan serta dampak dari insiden tersebut, Newport menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.






