Aparat kepolisian telah mengidentifikasi dua orang yang diduga kuat sebagai pelaku penembakan terhadap tiga aparatur sipil negara (ASN) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di Papua. Kedua terduga pelaku tersebut diketahui berinisial PN dan KT.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol Yusuf Sutejo, menjelaskan bahwa setelah aksi penembakan berlangsung, kedua pelaku sempat menggunakan telepon seluler milik salah satu korban, Wili Mbuik. Ponsel tersebut dipakai oleh pelaku untuk melakukan panggilan video (video call) sebanyak dua kali kepada pihak keluarga.
Panggilan video dari telepon genggam milik korban tersebut kini dijadikan sebagai salah satu petunjuk penting oleh pihak kepolisian guna melacak dan mendeteksi titik persembunyian kedua pelaku. Terkait pergerakan pelaku setelah kejadian, aparat menilai terdapat dua kemungkinan jalur pelarian, yakni membaur di tengah lingkungan masyarakat atau kembali menyusup masuk ke dalam hutan yang menjadi lokasi persembunyian mereka.
Sempat Batal, Peresmian LRT Kelapa Gading-Manggarai Ditargetkan September 2026

Masuk DPO Kasus Penyanderaan Pilot dan Tragedi Istaka Karya
Berdasarkan data penegak hukum, PN dan KT bukan nama baru dalam daftar kejahatan bersenjata di wilayah Papua. Keduanya telah lama tercatat ke dalam daftar pencarian orang (DPO) kepolisian atas keterlibatan dalam serangkaian peristiwa kriminal berat sebelumnya.
PN dan KT diketahui berstatus DPO dalam kasus penculikan seorang pilot yang pada akhirnya telah berhasil dibebaskan pada tahun 2024. Tidak hanya itu, kedua buronan ini juga tercatat masuk dalam DPO kasus penyerangan dan pembantaian terhadap para pekerja PT Istaka Karya yang terjadi pada tahun 2019 silam. Dalam peristiwa penyerangan PT Istaka Karya tersebut, kelompok bersangkutan melakukan serangkaian tindakan perampokan, penculikan, hingga pembunuhan terhadap sejumlah karyawan yang tengah bertugas membangun ruas jalan Trans Papua.
Bareskrim Tangkap Erick Soedjasa, Tersangka Kasus Penggelapan Rp 37,4 Miliar

Mengenai pola aksi kejahatan mereka, kelompok ini disinyalir kerap menjalankan modus operandi secara acak dengan menyebarkan teror kepada warga, baik lewat ancaman kekerasan maupun tindakan penyerangan secara langsung. Sementara itu, pihak kepolisian hingga kini belum menarik kesimpulan bahwa penembakan terhadap ketiga pegawai negeri sipil tersebut semata-mata didasari oleh latar belakang korban yang bukan merupakan orang asli Papua.






