Kepolisian Negara Republik Indonesia memastikan bahwa jenazah korban insiden terbaliknya KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa tetap dapat diidentifikasi secara medis selama kondisi jasad belum melewati batas waktu pembusukan.
KM Virgo Transport 8 sebelumnya dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9) sekitar pukul 02.00 Wita. Kapal yang mengangkut 243 orang—terdiri dari penumpang, awak kapal, dan kru—tersebut tengah berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9). Hingga Rabu (16/9), sebanyak 114 korban telah berhasil ditemukan dengan 6 di antaranya dalam kondisi meninggal dunia, sementara 129 korban lainnya masih dinyatakan hilang.
Batas Waktu Pembusukan dan Peran Tim DVI
Kepala Biro Kedokteran Kepolisian (Karodokpol) Pusdokkes Polri Brigjen Sumy Hastry Purwanti menerangkan bahwa proses pembusukan menjadi faktor pembatas utama dalam identifikasi jenazah korban tenggelam. Kondisi lingkungan di dalam air membuat jasad lebih cepat mengalami proses dekomposisi.
Sudah 10 Jam, Api yang Melahap Pabrik Lampu di Tangerang Belum Padam

"Batasannya proses pembusukan. Di dalam air jasad akan lebih cepat membusuk. Biasanya di atas lima hari sudah mulai ada bagian yang rusak," ujar Hastry dalam keterangannya, Rabu (16/9).
Untuk menangani proses identifikasi, Polri mengerahkan tim Disaster Victim Identification (DVI) Indonesia yang tersebar di setiap Polda di bawah koordinasi Kabiddokkes. Tim DVI di wilayah Surabaya dan Banjarmasin telah mendirikan posko Post Mortem guna memeriksa jenazah yang berhasil dievakuasi.
Hastry menambahkan, pengumpulan data antemortem dari keluarga korban sangat diperlukan untuk mempercepat proses pencocokan. Keberadaan properti pribadi maupun catatan fisik dan medis korban sebelum musibah terjadi menjadi rujukan penting bagi tim forensik di lapangan.
Viral Rombongan Moge Cekcok dengan Pengendara Mobil di Ciputat, Tangsel, Ini Klarifikasi MBCI Bogor

Perluasan Area Operasi SAR Gabungan
Memasuki hari keempat pada Rabu (16/9), operasi pencarian dan pertolongan korban terus diintensifkan dengan melibatkan unsur Basarnas, TNI, Polri, dan BNPB. Area pencarian maritim diperlebar guna memaksimalkan penyisiran terhadap korban yang belum ditemukan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana menyampaikan bahwa Tim SAR Gabungan memperluas wilayah sapuan di laut hingga mencakup 6.120 mil laut persegi (NM²). Wilayah operasi tersebut dibagi ke dalam enam sektor pencarian, dengan luas masing-masing sektor mencapai sekitar 1.020 NM².






