Krisis air bersih yang meluas di Sri Lanka memaksa warga menggali tanah di dasar sumur yang mengering hanya untuk mendapatkan sedikit rembesan air. Fenomena kekeringan ekstrem berkepanjangan telah melumpuhkan aktivitas pertanian, menguras sumber air baku, dan memukul mata pencaharian puluhan ribu masyarakat di negara kawasan Asia Selatan tersebut.
Potret kesulitan hidup ini salah satunya dialami A.M. Pathmasena (48), seorang petani asal Desa Galwela Yaya di Distrik Ampara. Untuk pertama kalinya dalam kurun lebih dari tiga dekade, sumur milik keluarganya hampir berhenti mengeluarkan air. Agar anggota keluarganya dapat mandi, ia harus menggali lubang kecil di dasar sumur yang retak lalu menanti rembesan air tanah terkumpul perlahan.
Kelangkaan air tersebut berdampak langsung pada ketahanan ekonomi keluarga Pathmasena. Sebelum krisis terjadi, ia mampu mengantongi pendapatan sekitar 20.000 rupee Sri Lanka atau setara Rp1,06 juta (sekitar US$60) per bulan dari hasil budidaya kacang tunggak. Tanaman miliknya kini mengalami gagal panen total, memaksanya beralih profesi menjadi buruh harian. Tak hanya itu, usaha peternakan ayam yang dirintis putranya turut terhenti beberapa pekan lalu akibat kombinasi suhu panas menyengat dan ketiadaan pasokan air.
Putin Bikin Kaget! Tiba-Tiba Bicara Damai dengan Ukraina, Perang End?

Kondisi memprihatinkan ini dipicu oleh kemunculan pola cuaca El Ni帽o, yakni fenomena pemanasan suhu permukaan laut di kawasan tengah dan timur Pasifik khatulistiwa. Sejumlah distrik sentra pertanian di Sri Lanka mencatatkan defisit curah hujan yang sangat tajam, berada pada kisaran 85 persen hingga 100 persen di bawah rata-rata jangka panjang.
Ketinggian Waduk Menyusut hingga 10 Persen
Pemerintah setempat memperingatkan bahwa kekeringan tahun ini berpotensi menjadi salah satu yang paling parah dalam beberapa dekade. Ketinggian air di ratusan waduk berukuran kecil dilaporkan anjlok drastis hingga tersisa sekitar 10 persen dari kapasitas normal. Sungai, danau, dan tampungan air yang selama ini menyokong kebutuhan irigasi serta sanitasi rumah tangga di sebagian besar wilayah utara, timur, dan selatan Sri Lanka kian mengering.
Alaska Diguncang Gempa dengan Magnitudo 6,3

Guna mengantisipasi krisis kemanusiaan yang lebih dalam, armada truk tangki dikerahkan untuk mendistribusikan air bersih kepada puluhan ribu warga terdampak. Meski demikian, jangkauan pasokan air menghadapi tantangan logistik yang nyata. Keluarga yang berada di kawasan yang mudah dijangkau menerima pasokan air setiap tiga hingga lima hari, sedangkan penduduk di wilayah pelosok dan terpencil harus menunggu jadwal distribusi hingga 23 hari.






