Biaya pinjaman pemerintah Prancis melonjak mendekati level tertinggi sejak krisis keuangan global 2008. Lonjakan imbal hasil surat utang ini dipicu oleh pembengkakan beban fiskal negara serta kebuntuan politik domestik yang meningkatkan kekhawatiran para investor.
Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun sempat menyentuh angka 4,13% pekan lalu sebelum bertahan di kisaran 4,1% pada penutupan Jumat. Angka tersebut menjadi level pembiayaan utang tertinggi bagi Paris dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Kondisi fiskal Prancis kian tertekan setelah defisit anggaran tahun lalu tercatat mencapai 5,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB), melampaui ambang batas maksimum Uni Eropa sebesar 3%. Pada saat bersamaan, rasio utang pemerintah terhadap PDB telah menembus 115%. Berdasarkan proyeksi IMF, rasio utang tersebut diperkirakan terus merangkak naik hingga menyentuh sekitar 118,5% pada 2026 dan melampaui 120% pada 2027.
AS Tiba-Tiba Beri Pesan Penting ke Negara G20, Ada Apa?

Pembengkakan utang terjadi di tengah perlambatan ekonomi yang nyata. Pertumbuhan ekonomi Prancis mengalami kontraksi 0,2% secara kuartalan pada tiga bulan pertama tahun ini, kemudian stagnan pada kuartal kedua. Ketidakpastian fiskal turut diperberat oleh faktor eksternal dan lingkungan, mulai dari dinamika perang, tren suku bunga jangka panjang yang tinggi, hingga beban dampak bencana gelombang panas dan kebakaran hutan.
Ahli strategi suku bunga di Natixis CIB, Theophile Legrand, mengungkapkan bahwa obligasi pemerintah Prancis atau OAT kini berada dalam posisi tertekan. Legrand mencatat bahwa pasar tengah menantikan kepastian penurunan defisit serta jalur stabilisasi utang yang kredibel, khususnya terkait proyeksi anggaran 2027.
Indonesia Best CMO Awards 2026 Bidik Perusahaan Inovatif dalam Pemasaran

Kepala Spesialis Investasi di Insight Investment, April LaRusse, menyatakan bahwa ekspektasi pertumbuhan ekonomi telah direvisi turun sementara proyeksi beban utang terus meningkat. Situasi inilah yang mengerek imbal hasil obligasi Prancis ke tingkatan yang belum pernah terjadi sejak krisis keuangan 2008.
Tantangan ekonomi ini kian kompleks akibat tensi politik di parlemen serta persiapan menuju pemilihan presiden 2027, di mana figur sayap kanan Marine Le Pen muncul sebagai salah satu kandidat utama.






