Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan perkembangan terbaru terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah di Indonesia. Berdasarkan laporan terkini, jumlah titik panas tercatat mengalami peningkatan secara relatif di tiga provinsi di Pulau Kalimantan, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Dari ketiga wilayah tersebut, lonjakan titik panas paling signifikan terjadi di Kalimantan Barat.
Kondisi karhutla di Kalimantan berdampak langsung pada jarak pandang dan kepekatan udara di kawasan terdampak. Berton SP Panjaitan dari BNPB menyebutkan bahwa jarak pandang di wilayah terdampak di Kalimantan saat ini berada di kisaran 1 sampai 2 kilometer. Selain penurunan jarak pandang, data dari BMKG menunjukkan bahwa konsentrasi polutan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan masuk dalam kategori sangat pekat hingga esok hari.
Polisi Segera Gelar Perkara Hentikan Kasus Dugaan Penipuan Ruben Onsu

Di wilayah Sumatra, kondisi titik panas menunjukkan tren yang bervariasi. Jumlah titik panas di Riau dan Jambi dilaporkan telah berkurang secara signifikan. Jarak pandang di Jambi kini berada di sekitar 7 kilometer, sedangkan di Riau berkisar antara 4 hingga 5 kilometer. Sebaliknya, situasi di Sumatera Selatan justru mengalami peningkatan sebanyak 209 titik panas, sehingga akumulasinya mencapai 1.013 titik api dengan jarak pandang berkisar antara 4 hingga 5 kilometer. Sementara itu, untuk wilayah Papua dan Jawa, intensitas api dan asap cenderung mengalami pengurangan atau difusi (diffuse).
Pengerahan Armada Udara di Enam Provinsi Prioritas
Guna mengoptimalkan penanggulangan karhutla, pemerintah telah mengerahkan sebanyak 53 unit armada udara. Seluruh armada udara tersebut disiagakan dan dioperasikan di enam provinsi yang menjadi prioritas utama penanganan, yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.
Menkes Budi Gunadi Ungkap Amanah Prabowo Maju Pemilihan Dirjen WHO

Dari total 53 armada udara yang diterjunkan, BNPB membaginya ke dalam dua fungsi operasional utama. Sebanyak 19 unit dialokasikan untuk melakukan kegiatan patroli pemantauan serta operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Sementara itu, 34 unit lainnya dikerahkan sebagai helikopter pengeboman air (water bombing) untuk memadamkan kobaran api secara langsung di titik-titik karhutla.






