PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah mempersiapkan pembangunan infrastruktur pejalan kaki bernama Pedestrian Deck Dukuh Atas. Proyek dengan desain berbentuk melingkar tersebut merupakan bagian dari pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas. Pembangunan fasilitas ini ditargetkan mampu menghubungkan enam moda transportasi publik sekaligus, yakni MRT Jakarta, KRL Commuter Line, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, Kereta Bandara, serta TransJakarta. Kehadiran fasilitas pejalan kaki ini ditujukan untuk mempermudah perpindahan antarmoda bagi masyarakat di pusat ibu kota.
TOD Planning Department Head MRT Jakarta, Sagita Devi, menyatakan bahwa pengembangan kawasan berbasis transit tidak hanya menyangkut operasional kereta, tetapi juga memerlukan integrasi antarmoda serta peningkatan konektivitas pejalan kaki. Dalam acara workshop MRT Jakarta Fellowship Program 2026 pada Kamis (30/7), Sagita menegaskan bahwa pihak MRT Jakarta tidak dapat bergerak sendiri dalam mengelola kawasan TOD tersebut. Menurutnya, kolaborasi yang erat dari seluruh pemangku kepentingan sangat dibutuhkan agar pengembangan kawasan dapat berjalan selaras dan saling terhubung.
Dalam mewujudkan jaringan pejalan kaki tersebut, MRT Jakarta dihadapkan pada kondisi lapangan yang kompleks. Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta, Agus Trihan, mengungkapkan bahwa pengerjaan proyek ini memiliki dua pekerjaan rumah utama, yakni tantangan teknis dan tantangan administratif. Tantangan-tantangan tersebut menuntut ketelitian tinggi agar pembangunan fasilitas tidak mengganggu mobilitas publik maupun operasional infrastruktur yang sudah ada di kawasan Dukuh Atas.
Harga Emas Antam Turun Rp10 Ribu Jadi Rp2,592 Juta per Gram

Dari segi teknis, sebagian pondasi pedestrian deck harus dibangun tepat di antara terowongan MRT Jakarta yang saat ini masih beroperasi secara aktif. Selain itu, konstruksi ini membutuhkan bentang kolom sepanjang 66 meter di atas sungai serta 66 meter di atas Jalan Jenderal Sudirman. Tantangan teknis lainnya adalah keberadaan rumah pompa di sisi selatan kawasan yang harus tetap beroperasi penuh selama masa konstruksi berlangsung. Fasilitas rumah pompa tersebut memiliki peran vital untuk mengendalikan genangan air di underpass Sudirman agar tidak terjadi banjir.
Sementara itu, dari segi administratif, jalur pedestrian deck ini akan melintasi lahan dan aset yang dimiliki oleh berbagai instansi berbeda. Aset-aset yang berada di jalur pembangunan tersebut meliputi milik Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan, PT KAI, Railink, pemerintah pusat, hingga sejumlah organisasi perangkat daerah di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Banyaknya pemilik aset di area yang padat dan sensitif ini mengharuskan adanya koordinasi intensif antar-instansi agar proses perizinan dan pemanfaatan lahan dapat disepakati bersama.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut menyadari pentingnya penyelarasan antar-pemangku kepentingan di kawasan Dukuh Atas. Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta, Marulina Dewi, menekankan perlunya kerja sama antara operator transportasi, pemilik aset, dan pemerintah agar konektivitas yang dibangun memberi manfaat nyata. Sebagai salah satu langkah nyata, sebuah focus group discussion (FGD) telah diselenggarakan pada 28 April 2026. Forum diskusi tersebut digelar untuk menyelaraskan rencana pembangunan pedestrian deck agar terintegrasi secara menyeluruh dengan kawasan sekitarnya.
Detik-detik Purbaya Ditelepon Mensesneg di DPD Jelang Diganti Suahasil

Terkait pengembangan kawasan integrasi tersebut, pengamat tata kota Yayat Supriatna berpendapat bahwa integrasi secara fisik yang mempermudah pejalan kaki merupakan langkah dasar dalam transportasi publik. Namun, Yayat mengingatkan bahwa pendekatan integrasi fisik tersebut harus dilanjutkan dengan integrasi secara tarif dan integrasi secara jadwal. Menurut Yayat, penyatuan tarif dan jadwal antar-moda merupakan tahapan lanjutan yang krusial agar masyarakat dapat menikmati perpindahan moda transportasi dengan lebih efisien tanpa hambatan biaya maupun waktu.
Adapun dari sisi tahapan proyek, Pedestrian Deck Dukuh Atas saat ini telah memasuki tahap tender kontraktor setelah proses penyelesaian basic design rampung. PT MRT Jakarta menargetkan kontraktor yang terpilih dapat mulai bergabung pada bulan November mendatang. Jika tahapan berjalan sesuai rencana, proses pembangunan fisik pedestrian deck ditargetkan selesai pada akhir tahun 2028.






