Bagaimana capaian nyata program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan oleh Badan Gizi Nasional di lapangan? Sejak resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025, program intervensi nutrisi skala nasional ini telah mencatatkan distribusi miliaran porsi makanan dan menjangkau puluhan juta penerima manfaat dari berbagai kelompok prioritas di seluruh Indonesia.
Pelaksanaan program ini tidak hanya menyasar pemenuhan gizi siswa di sekolah, tetapi juga mencakup kelompok rentan, penataan rantai pasok lokal, hingga penajaman sasaran kebijakan.
Capaian Distribusi dan Jumlah Penerima Manfaat MBG
Hingga pelaksanaannya berjalan, program Makan Bergizi Gratis telah menjangkau 62.454.064 penerima manfaat di berbagai daerah. Dari total jangkauan tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat sebanyak 8,3 miliar porsi makanan bergizi telah disalurkan melalui unit-unit pelayanan resmi.
Penerima manfaat terbesar berasal dari kalangan peserta didik di institusi pendidikan formal dan nonformal. Rincian sebaran penerima manfaat program ini meliputi:
- Peserta Didik: Menjangkau 48.350.393 siswa atau setara dengan 76,1 persen dari total data induk peserta didik nasional yang berjumlah 63.574.421 jiwa.
- Balita: Mencakup 6.303.775 anak, memenuhi sekitar 37,7 persen dari data induk balita nasional.
- Ibu Menyusui: Menjangkau 2.066.533 orang atau 75,2 persen dari total sasaran kelompok ibu menyusui.
- Ibu Hamil: Mencapai 868.259 orang atau sekitar 35,3 persen dari total target ibu hamil.
- Santri: Disalurkan kepada 644.664 santri di berbagai pondok pesantren, setara 44,2 persen dari target nasional.
Jaringan Operasional dan Keterlibatan Sektor Usaha
Kelancaran distribusi makanan bergizi dalam skala masif ditopang oleh kesiapan infrastruktur dapur dan rantai pasok terintegrasi. Sebanyak 29.225 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi di berbagai wilayah Indonesia untuk memasak dan mendistribusikan hidangan ke 374.175 sekolah penerima manfaat.
Penerapan Aplikasi Identitas Kependudukan Digital IKD Kemendagri, Fitur, Manfaat, dan Arah Kebijakan

Operasional harian program MBG turut menyerap 1.285.250 tenaga kerja langsung di tingkat lapangan. Selain itu, ekosistem penyediaan bahan baku melibatkan 142.387 penyuplai lokal yang terdiri atas:
- 59.921 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
- 13.306 Koperasi
- 1.410 Badan Usaha Milik Desa (Bumdes)
- 690 KDKMP
- 157 Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma)
- 66.903 penyuplai bahan pangan lainnya
Keterlibatan jaringan penyuplai ini dirancang untuk menjaga ketersediaan komoditas segar secara berkesinambungan bagi dapur SPPG di setiap wilayah.
Penajaman Sasaran: Prioritas Wilayah 3T dan Kelompok 3B
Dalam rangka efisiensi dan keadilan alokasi anggaran negara, Badan Gizi Nasional melakukan langkah penajaman sasaran (refocusing). Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang menegaskan bahwa penyaluran MBG dievaluasi secara ketat, termasuk penghentian distribusi ke sekolah-sekolah elite agar anggaran diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu.
Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, pelaksanaan program MBG difokuskan secara intensif pada dua target utama:
Arah dan Capaian Program Percepatan Reformasi Birokrasi dan Transformasi Digital ASN

- Wilayah 3T: Kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar yang memiliki keterbatasan akses terhadap asupan nutrisi seimbang.
- Kelompok 3B: Sasaran spesifik yang mencakup ibu hamil, ibu menyusui, dan balita guna mencegah risiko gangguan gizi kronis sejak dini.
BGN juga menerbitkan surat edaran tegas kepada seluruh pengelola SPPG. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang kedapatan tidak melayani sasaran kelompok 3B di wilayah operasionalnya akan dikenakan sanksi penangguhan.
Integrasi Modul Kandungan Gizi dan Koordinasi Lintas Sektor
Selain mendistribusikan makanan siap santap, Badan Gizi Nasional melengkapi program dengan edukasi gizi langsung kepada para pelajar. Kepala BGN Sudaryono, saat meninjau pelaksanaan MBG di SDN Bantarjati 9, Kota Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (24/7/2026), mengumumkan rencana penambahan modul kandungan gizi di sekolah.
Modul yang disalurkan melalui SPPG tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai manfaat sayuran dan makanan bergizi yang mereka konsumsi sehari-hari. Edukasi ini dipersiapkan agar berdampak langsung terhadap kesadaran pola makan sehat yang mendukung tumbuh kembang siswa.
BGN terus memperkuat koordinasi dengan kementerian serta dinas terkait di tingkat pusat dan daerah, termasuk Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, Kementerian Pendidikan, serta Dinas Pendidikan, guna memastikan sinkronisasi data dan kelancaran operasional di setiap satuan pendidikan.






