Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan kinerja positif pada penutupan perdagangan hari Kamis (20/8/2026). Berdasarkan data perdagangan pasar uang, mata uang Garuda berhasil terapresiasi sebesar 0,48% dan mengakhiri sesi di level Rp17.740 per dolar AS. Penguatan yang terjadi pada perdagangan hari Kamis tersebut melanjutkan tren kenaikan yang telah dicatatkan pada hari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan hari Rabu (19/8/2026), nilai tukar rupiah tercatat menguat sebesar 0,14% ke posisi Rp17.825 per dolar AS.
Apresiasi nilai tukar rupiah ini sejalan dengan melemahnya posisi greenback di pasar global. Indeks dolar AS (DXY), yang merupakan indikator pengukur pergerakan mata uang dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau berada di zona merah. Pada pukul 15.00 WIB, indeks DXY mengalami pelemahan tipis sebesar 0,08% ke level 98,760. Kondisi ini memperpanjang tren tekanan bagi dolar AS setelah pada sesi perdagangan sebelumnya indeks DXY ditutup melemah sebesar 0,83%. Pelemahan tersebut membawa indeks dolar AS bergerak di sekitar posisi terendahnya dalam tiga bulan terakhir.
Karya Kreatif Indonesia 2026, Sinergi Bank Indonesia Mendorong UMKM

Dinamika pasar obligasi di AS turut dipengaruhi oleh pengumuman kebijakan dari Departemen Keuangan AS. Otoritas keuangan AS tersebut berencana menggandakan operasi pembelian kembali atau buyback obligasi berjangka panjang guna menjaga likuiditas pasar. Sebelum pengumuman tersebut, aksi jual di pasar obligasi sempat memicu lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun hingga menyentuh 5,337%, yang merupakan level tertingginya sejak tahun 2007. Namun, menyusul pengumuman terkait operasi buyback oleh Departemen Keuangan AS, imbal hasil obligasi 30 tahun tersebut berangsur turun ke kisaran 5,184%.
Di sisi lain, perkembangan pasar keuangan global masih dicermati seiring dengan arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Dokumen risalah rapat The Fed menunjukkan bahwa sejumlah pejabat bank sentral masih membuka peluang kenaikan suku bunga acuan apabila laju inflasi belum kembali menuju target sasaran yang ditetapkan di level 2%.
BSI Dorong Penerapan Penjaminan Simpanan Emas dalam Ekosistem Bullion Bank

Sementara itu dari dalam negeri, kestabilan rupiah juga ditopang oleh langkah kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga BI Rate di level 5,75%. Terkait prospek nilai tukar, Gubernur Sementara BI Destry Damayanti pada Rabu (19/8/2026) menyampaikan bahwa rupiah diperkirakan akan tetap stabil. Hal ini didukung oleh langkah bank sentral dalam mengoptimalkan instrumen moneternya demi menjaga stabilitas kurs. Destry menegaskan, "BI menempuh strategi menjaga stabilitas nilai tukar. Ke depan nilai tukar stabil didukung penguatan stabilisasi BI."






