Berita Viral Terkini

Rupiah Terhimpit Sentimen Global dan Ancaman Tarif Baru Amerika Serikat

Ding Anyi ApuiPublished 25 Jul 2026 - 12.401 Reads
Bagikan WhatsAppX
Rupiah Terhimpit Sentimen Global dan Ancaman Tarif Baru Amerika Serikat
Ilustrasi Ekonomi. Foto: CNBC Indonesia - Market.
A-A+

Mata uang Garuda sedang menghadapi ujian berat di tengah pusaran sentimen global yang tidak menentu. Pada penutupan perdagangan hari Jumat, 24 Juli 2026, nilai tukar rupiah kembali terkapar di zona merah setelah sempat bergerak mendekati ambang batas psikologis baru yang cukup mengkhawatirkan, yakni Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Data dari Refinitiv menunjukkan rupiah ditutup melemah sebesar 0,25 persen ke level Rp17.935 per dolar AS. Angka penutupan ini sama persis dengan posisi saat pasar dibuka pada pagi harinya, mencerminkan tekanan konstan yang dihadapi mata uang domestik sepanjang hari.

Sepanjang sesi perdagangan, fluktuasi tajam sempat membawa rupiah merosot hingga menyentuh titik terendahnya di level Rp17.980 per dolar AS. Meskipun menjelang penutupan pasar tekanan tersebut sedikit mereda dan rupiah berhasil memangkas jarak sekitar 50 poin dari level terburuknya, hasil akhir tetap menunjukkan tren yang lesu. Pelemahan ini menandai hari kedua berturut-turut rupiah terjerembab di zona merah. Jika dihitung dalam rentang mingguan, mata uang kebanggaan Indonesia ini juga tercatat melemah sekitar 0,25 persen dibandingkan dengan posisi penutupan pada pekan sebelumnya yang berada di level Rp17.885 per dolar AS.

Also Read

Prabowo Minta Purbaya Hitung Ulang Kekuatan APBN Hadapi Lonjakan Harga Minyak Dunia

Menariknya, pelemahan rupiah kali ini terjadi di saat indeks dolar AS (DXY) sebenarnya sedang mengalami koreksi. Pada pukul 15.00 WIB, indeks yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama dunia tersebut terpantau turun 0,17 persen ke posisi 101,275, setelah sehari sebelumnya sempat menguat 0,32 persen. Ketidakmampuan rupiah memanfaatkan pelemahan indeks dolar AS ini menunjukkan bahwa faktor penekan tidak lagi sekadar kekuatan dolar secara umum, melainkan kombinasi dari gejolak harga minyak dunia, lonjakan imbal hasil obligasi AS, serta ketegangan perang dagang global yang kembali memanas.

Sektor energi menjadi salah satu sumbu utama kekacauan pasar keuangan global saat ini. Harga minyak mentah jenis Brent sempat menembus angka 102 dolar AS per barel pada perdagangan hari Jumat. Secara bulanan, harga komoditas energi tersebut telah melesat hampir 40 persen akibat konflik Timur Tengah yang mengancam jalur distribusi penting. Eskalasi terbaru dipicu oleh serangan kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah, yang mengancam Selat Bab el-Mandeb dan menyusul gangguan di Selat Hormuz. Situasi kian memanas setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan tindakan militer terhadap Iran. Kekhawatiran inflasi akibat lonjakan energi ini pun melambungkan yield US Treasury tenor 10 tahun hingga melewati angka 4,7 persen, level tertinggi dalam lebih dari 18 bulan yang membuat aset berdenominasi dolar AS kembali sangat memikat.

Also Read

Gaya Hidup Baru Tanpa Dompet berkat Perluasan Fitur QRIS

Di sisi lain, Indonesia juga harus menghadapi pukulan langsung dari kebijakan perdagangan luar negeri Amerika Serikat. Kebijakan tarif baru dari pemerintahan Trump resmi diberlakukan pada hari Jumat, dengan mengenakan bea masuk sebesar 10 persen hingga 12,5 persen bagi 60 negara mitra dagang yang dianggap lemah dalam penegakan aturan larangan produk hasil kerja paksa. Indonesia masuk dalam daftar negara yang terkena tarif 10 persen tersebut, menggantikan tarif global sementara dengan besaran yang sama. Kombinasi dari kenaikan tarif dagang dan melambungnya harga energi ini membuat para pelaku pasar kini bersiap menghadapi keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan depan, dengan ekspektasi bahwa Bank Sentral AS mungkin akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca