Kawasan perairan Outer Port Limits (EOPL) Malaysia di Laut China Selatan kini menjadi sorotan setelah kapal tanker minyak asal Iran, Humanity, terpantau mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) miliknya saat melintas di wilayah tersebut. Langkah menonaktifkan sistem pelacakan ini diduga kuat dilakukan sebagai persiapan untuk memindahkan kargo minyak mentah melalui transfer antar-kapal (ship-to-ship transfer) kepada pihak perantara. Setelah proses pemindahan tersebut selesai, komoditas minyak mentah ini rencananya akan dikirimkan menuju China.
Aktivitas semacam ini mencerminkan masih padatnya lalu lintas perdagangan minyak Iran di kawasan perairan EOPL Malaysia yang memiliki luas sekitar 1.200 kilometer persegi. Transaksi di wilayah ini tetap berjalan aktif meskipun ketegangan geopolitik sedang meningkat, ditandai dengan perang selama lima bulan yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Selain itu, aktivitas perdagangan ini tetap bertahan walau armada angkatan laut AS telah menerapkan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak tanggal 14 Juli lalu.
Secara geografis, wilayah perairan EOPL Malaysia menawarkan kondisi perairan yang tenang dan terletak sekitar 70 kilometer dari garis pantai. Meskipun berada di luar batas laut teritorial Malaysia, kawasan strategis ini masih masuk ke dalam cakupan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negara tersebut. Menurut penjelasan dari Charlie Brown, seorang pakar keamanan maritim dari YCAPS, pada hari-hari biasa terdapat hingga 200 kapal yang melakukan lego jangkar di kawasan EOPL. Dari jumlah tersebut, sekitar setengahnya diperkirakan memiliki keterkaitan langsung dengan jaringan perdagangan minyak asal Iran.
Cara Pengusaha Menghadapi Risiko Bencana Alam dan Perubahan Iklim

Upaya penyamaran identitas kapal di jalur ini juga terekam dengan jelas melalui data satelit. Sejak awal tahun ini, tercatat ada 62 kapal yang memancarkan identitas palsu atau menonaktifkan sistem pelacakannya saat bergerak di antara kawasan Teluk, EOPL, Hong Kong, hingga ke wilayah China utara. Bahkan, data satelit terbaru pada hari Kamis menunjukkan bahwa sedikitnya 18 kapal tanker berbendera Iran serta 50 kapal lain yang telah dijatuhi sanksi oleh AS dan Uni Eropa terpantau masih beroperasi secara aktif di kawasan EOPL tersebut.
Pembeli utama dari minyak Iran yang dijual dengan harga diskon ini adalah kilang-kilang minyak independen skala kecil di China, yang dikenal dengan sebutan kilang teapot. Berbeda dengan raksasa energi milik pemerintah China seperti CNPC, Sinopec, dan CNOOC, kilang-kilang teapot ini relatif tidak memiliki keterpaparan yang besar terhadap sistem keuangan AS. Hal ini membuat mereka lebih leluasa bertransaksi tanpa takut terkena dampak langsung dari sanksi keuangan barat. Proses transaksi pembayaran pun berjalan lancar berkat dukungan Sistem Pembayaran Antarbank Lintas Batas (CIPS) milik China, yang memungkinkan transaksi dilakukan menggunakan mata uang yuan di luar jaringan SWIFT yang diawasi oleh AS.
Biksu Ditangkap Gegara Skandal Seks-Gelapkan Uang Kuil Rp53 Miliar

Untuk menyamarkan asal-usul komoditas, data bea cukai menunjukkan bahwa tahun lalu Iran mengekspor sekitar 1,4 juta barel minyak per hari ke China. Namun, dalam laporan resmi bea cukai China, pasokan tersebut disamarkan sebagai minyak impor yang berasal dari Malaysia. Akibat taktik ini, data impor minyak China dari Malaysia melonjak drastis hingga melampaui kapasitas produksi minyak riil yang dimiliki oleh Malaysia sendiri. Guna melindungi kepentingan bisnis domestiknya, pemerintah China bahkan mengambil langkah tegas dengan memblokir sanksi Departemen Keuangan AS terhadap lima kilang teapot pada akhir April lalu.
Di sisi lain, pemerintah Malaysia tidak tinggal diam menghadapi maraknya aktivitas tanpa izin di wilayah perairannya. Pada bulan Juni lalu, Malaysia telah mengamandemen Undang-Undang ZEE mereka sebagai langkah hukum untuk menindak tegas aksi lego jangkar ilegal, pengisian bahan bakar tanpa izin (bunkering), serta transfer kargo ilegal di wilayah ZEE mereka. Sementara itu, dari sudut pandang AS, Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan bahwa volume pembelian minyak mentah Iran oleh kilang-kilang di China sebenarnya telah mengalami penurunan sekitar 40 persen sejak konflik bersenjata tersebut meletus.






