Pasar kendaraan roda dua listrik di Indonesia kini menawarkan opsi kepemilikan yang semakin bervariasi bagi konsumen, mulai dari pembelian unit secara utuh atau beli putus hingga sistem sewa baterai. Kehadiran opsi sewa baterai ini diproyeksikan menjadi langkah strategis untuk menekan biaya modal awal atau capital expenditure (Capex) saat membeli motor listrik. Salah satu produsen otomotif yang telah menerapkan model bisnis penyewaan baterai ini adalah Polytron. Perkembangan teknologi dan skema ini juga berjalan beriringan dengan uji coba berbagai model motor listrik di lapangan, seperti pelaksanaan test ride Polytron FOX 350 pada ajang GIIAS 2026 serta pengujian motor listrik Alva N3 untuk rute dari Bogor menuju Jakarta.
Melihat tren ini, Peneliti Senior Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi, memberikan pandangannya mengenai efektivitas skema sewa tersebut. Dalam penjelasannya kepada kumparan pada Selasa (11/8/2026), Agus menerangkan bahwa model bisnis sewa baterai secara finansial memindahkan sebagian biaya modal di awal menjadi biaya operasional bulanan atau operational expenditure (Opex). Dengan memindahkan komponen biaya tersebut, konsumen bisa mendapatkan harga pembelian awal motor listrik yang jauh lebih terjangkau. Selain itu, skema ini memberikan rasa aman bagi pengguna karena sudah mencakup garansi baterai, sehingga konsumen tidak perlu mengkhawatirkan risiko kerusakan baterai.
Bendera Merah Putih Sepanjang 1.000 Meter Dibentangkan di Malioboro

Meskipun menawarkan efisiensi biaya awal, kemanfaatan finansial dari skema ini sangat bergantung pada profil penggunaan harian konsumen. Skema sewa baterai dinilai sangat menguntungkan bagi kelompok pengguna intensif atau heavy user, seperti para pengemudi ojek online (ojol). Bagi pengemudi ojol yang rata-rata menempuh jarak sekitar 100 kilometer per hari, beralih ke motor listrik dengan sistem sewa baterai akan jauh lebih ekonomis dibandingkan tetap menggunakan motor berbahan bakar minyak (BBM).
Sebagai perbandingan, pengemudi ojol yang menempuh jarak 100 kilometer sehari memerlukan bahan bakar lebih dari 2 liter. Jika menggunakan BBM bersubsidi, pengeluaran minimal mencapai Rp 20.000 per hari. Apabila mereka beroperasi selama 20 hari dalam sebulan, total pengeluaran untuk membeli BBM bisa menyentuh angka sekitar Rp 400.000. Jumlah ini belum ditambah biaya perawatan berkala motor bensin, seperti penggantian oli dan servis CVT, yang rutin menambah beban operasional. Sementara itu, dengan motor listrik berskema sewa baterai, pengemudi hanya perlu membayar biaya sewa bulanan berkisar antara Rp 200.000 hingga Rp 300.000. Motor listrik juga tidak menuntut kunjungan rutin ke bengkel setiap bulan untuk perawatan berkala, kecuali jika terjadi kendala yang signifikan.
Chery Q Raih Penghargaan Hatchback Favorit di GIIAS 2026

Kondisi keuangan yang menguntungkan ini belum tentu berlaku serupa bagi kelompok pekerja komuter. Bagi pengguna yang hanya menggunakan motor untuk rute jarak pendek, seperti pulang-pergi dari rumah ke kantor, jarak tempuh harian mungkin hanya berkisar di angka 20 kilometer. Dengan jarak tempuh yang pendek tersebut, pengeluaran untuk membeli BBM motor bensin bisa jadi lebih rendah dibandingkan tarif sewa baterai bulanan. Dalam skenario ini, biaya sewa baterai minimal Rp 200.000 per bulan justru berpotensi terasa lebih mahal daripada biaya pembelian bensin bulanan mereka.






