YOGYAKARTA – Indonesia secara resmi mencatatkan sejarah baru di kancah internasional dengan menjadi negara Asia pertama yang dipercaya sebagai tuan rumah Kongres XI World Union of Jesuit Alumni (WUJA). Pertemuan akbar berskala global ini diselenggarakan di Yogyakarta dan dihadiri oleh sekitar 1.000 delegasi yang berasal dari 30-an negara di berbagai belahan dunia. Momentum ini menjadi tonggak yang sangat penting, mengingat organisasi himpunan alumni tersebut telah berdiri sejak 70 tahun lalu dan baru pada kesempatan ini perhelatan utamanya digelar di kawasan Benua Asia.
Kongres lintas negara yang dijadwalkan berlangsung hingga 2 Agustus 2026 ini mengusung tema utama "United in Spirit, Leading with Purpose". Melalui tema luhur tersebut, kegiatan ini dirancang menjadi ruang perjumpaan strategis bagi para delegasi dari berbagai latar belakang budaya, profesi, serta generasi. Mereka berkumpul secara khusus untuk mendiskusikan berbagai tantangan kepemimpinan di tengah situasi dunia masa kini yang semakin kompleks, yang kerap diwarnai oleh polarisasi sosial, konflik berkepanjangan, disrupsi teknologi, serta beragam tantangan kemanusiaan lainnya.
Dalam agenda tersebut, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyampaikan pidato pembukaan yang menyoroti esensi kepemimpinan melalui pendekatan refleksi diri. Menurut Sri Sultan HB X, sebuah perubahan besar di masyarakat tidak pernah berawal dari sekadar ambisi untuk mengubah dunia, melainkan harus dimulai dari keberanian manusia untuk memeriksa cara dirinya memandang dunia. Pemimpin masa depan dituntut untuk berani mengevaluasi diri, membangun dialog yang sehat, serta selalu menempatkan martabat manusia di atas segala kepentingan maupun kekuasaan semata.
Polisi Ungkap Kasus 5,2 Kg Sabu di Jakbar, 2 Pelaku Ditangkap

Untuk memperkuat pesannya, Sri Sultan HB X mengutip falsafah Jawa kuno yang sangat mendalam, yakni Hamemayu Hayuning Bawana. Melalui falsafah tersebut, ia menekankan bahwa seorang pemimpin tidak cukup jika hanya mengandalkan kemampuan intelektual atau kewenangan formal yang dimilikinya. Lebih dari itu, kepemimpinan sejati sangat membutuhkan kebijaksanaan untuk senantiasa menjaga harmoni antara manusia, alam semesta, dan kehidupan bersama. Di tengah derasnya arus informasi dunia modern, ruang keheningan dinilai sangat diperlukan guna menemukan kejernihan berpikir, mendengarkan suara hati, dan mengambil keputusan yang benar-benar berpihak pada nilai kemanusiaan.
Pandangan yang berpadu dalam satu semangat tersebut juga disuarakan oleh Pater Jenderal Serikat Jesus, Arturo Sosa, S.J., yang hadir untuk memberikan pidato utama. Ia memaparkan pandangannya bahwa kepemimpinan yang sejati sama sekali tidak lahir dari dominasi kekuasaan, melainkan tumbuh dari kerendahan hati dan keberanian untuk melayani sesama manusia. Pater Arturo Sosa mengingatkan seluruh peserta bahwa keberhasilan sebuah pendidikan tidak seharusnya diukur dari deretan gelar maupun prestasi akademik, melainkan dari karakter pribadi yang terbentuk ketika seseorang kembali mengabdi ke tengah masyarakat luas.
KP Sanjaya Sisir Perairan Anak Krakatau Cari Rombongan Jurnalis yang Hilang Kontak

Dalam pemaparannya di hadapan ribuan delegasi, Pater Arturo Sosa turut mengutip pesan penting dari mendiang Pater Peter-Hans Kolvenbach, S.J., yang tertuang dalam sebuah deklarasi bersejarah pada tahun 2000. Melalui rujukan tersebut, ia menegaskan kembali bahwa ukuran sejati dari pendidikan yang mereka jalani adalah sejauh mana para alumni mampu menggunakan pengetahuan, pengalaman, serta kepemimpinan mereka untuk menjaga martabat manusia. Mereka juga diharapkan mampu menjadi agen yang membangun rekonsiliasi dan menghadirkan kehidupan yang jauh lebih adil bagi semua pihak.
Sebagai penutup pesannya, Pater Arturo Sosa mengingatkan bahwa dunia saat ini tengah dihadapkan pada berbagai tantangan global yang saling berkaitan erat, mulai dari ancaman peperangan, dampak perubahan iklim, hingga meningkatnya polarisasi di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa seluruh rentetan persoalan tersebut tidak akan dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan kekuatan ekonomi atau kemajuan teknologi semata. Dunia saat ini sangat membutuhkan sosok pemimpin yang mampu membangun ruang dialog, menjembatani berbagai perbedaan, serta selalu mengutamakan martabat manusia dalam setiap proses pengambilan keputusannya.






