Pemerintah Kota Pekanbaru menetapkan 21 puskesmas di seluruh wilayah kota bersiaga penuh untuk melayani warga selama masa tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berlangsung hingga 7 September 2026. Fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama tersebut difungsikan sebagai posko utama penanganan warga yang terdampak langsung polusi kabut asap.
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho menginstruksikan agar seluruh puskesmas tetap beroperasi, termasuk pada hari libur. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi terhadap potensi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) akibat paparan asap karhutla yang kian pekat. Setiap puskesmas juga diwajibkan memastikan kesiapan logistik medis, mulai dari ketersediaan masker, vitamin, hingga peralatan medis untuk menangani gangguan pernapasan.
9.185 Rumah Rusak Akibat Gempa di Sikka, Pemkab Verifikasi Data

Penetapan status siaga kesehatan ini menyusul keputusan resmi Kota Pekanbaru dan Kabupaten Pelalawan yang menaikkan status wilayah menjadi tanggap darurat karhutla setelah kualitas udara dilaporkan berada pada kategori sangat tidak sehat.
Penanganan Karhutla di Wilayah Riau
Untuk menekan titik api dan mengurangi kepekatan asap di wilayah Riau, tim gabungan menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Penyemaian garam dilakukan secara bertahap, mencakup penyemaian 2 hingga 3 ton garam di berbagai titik sasaran, termasuk pemadaman di area Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir.
Warga Palestina di Bali Ditangkap Imigrasi akibat Promosi Wisata Ilegal

Penanganan karhutla di wilayah Riau turut ditinjau oleh Presiden Prabowo Subianto. Dalam peninjauan tersebut, Presiden mengapresiasi upaya penurunan luas area kebakaran lahan sekaligus menginstruksikan pembentukan sistem pencegahan permanen guna menghindari kebakaran berulang di masa mendatang.






