Operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang kontak di perairan Selat Sunda saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih terus berlangsung. Hingga memasuki hari kedua pelaksanaan operasi, tim SAR gabungan belum mengerahkan armada helikopter untuk melakukan pemantauan maupun evakuasi dari udara.
Keputusan untuk belum menggunakan jalur udara ini diambil berdasarkan berbagai pertimbangan keselamatan operasional penyelamatan di sekitar kawasan vulkanik yang masih bergejolak. Seluruh unsur SAR berupaya memastikan proses pencarian tetap berjalan efektif tanpa membahayakan keselamatan para personel di lapangan.
Mengapa Tim SAR Belum Menerjunkan Helikopter?
Kondisi Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus aktif menjadi salah satu faktor utama yang mendasari pertimbangan Basarnas untuk menahan penggunaan helikopter. Aktivitas erupsi dan dinamika vulkanik di sekitar gunung dinilai menimbulkan risiko tersendiri bagi penerbangan operasi pencarian udara.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan SAR Banten, Al Amrad, menjelaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi secara intensif dengan berbagai pihak terkait untuk menentukan metode pencarian yang paling aman. Keselamatan tim penyelamat menjadi prioritas utama sembari memetakan perkembangan situasi vulkanik terkini di wilayah perairan tersebut.
Gempa Susulan NTT Terus Terjadi, Ini Data Terbarunya

Bagaimana Rekomendasi PVMBG Membatasi Operasi Pencarian?
Selain faktor keaktifan vulkanik secara umum, Basarnas turut mempertimbangkan arahan teknis dan rekomendasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Lembaga tersebut telah mengeluarkan panduan mengenai zona berbahaya di kawasan Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan ketetapan PVMBG, zona bahaya ditetapkan berada pada radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Adanya radius bahaya ini menjadi pedoman operasional bagi tim SAR gabungan dalam mengatur pergerakan armada agar tidak melintasi batas wilayah yang dapat mengancam keselamatan operasi pertolongan.
Bagaimana Strategi Pencarian Laut yang Dilakukan Saat Ini?
Sebagai langkah alternatif yang dinilai lebih terukur, operasi pencarian saat ini difokuskan melalui jalur laut. Tim SAR mengerahkan kapal-kapal penyelamat untuk menyisir sejumlah sektor perairan di seputaran Gunung Anak Krakatau yang dinilai berada pada jarak aman.
Operasi penyisiran perairan ini merupakan kerja sama terpadu yang melibatkan personel SAR gabungan dari wilayah Banten dan Lampung, didukung oleh unsur-unsur terkait lainnya. Koordinasi lintas wilayah terus dioptimalkan guna memperluas jangkauan penyisiran terhadap titik-titik yang dicurigai sebagai lokasi keberadaan korban.
Tiga Kapal Perang Dikerahkan Cari 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Siapa Saja Delapan Orang yang Dilaporkan Hilang Kontak?
Hingga hari kedua operasi, keberadaan armada speedboat beserta seluruh penumpang di dalamnya belum berhasil ditemukan. Terdapat total delapan orang yang saat ini berstatus dalam pencarian tim SAR gabungan, terdiri dari tiga orang awak kapal dan lima orang jurnalis yang bertugas meliput erupsi.
Tiga orang kru kapal yang berada di speedboat tersebut adalah Warta (55) sebagai kapten kapal, Surakman (60) selaku anak buah kapal (ABK), serta Heriyanto (49) yang bertindak sebagai pemandu atau guide.
Sementara itu, lima jurnalis yang turut hilang kontak meliputi M Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan seorang jurnalis lepas.






