Peringatan seperempat abad Tragedi 9/11 membawa kembali ingatan publik pada peristiwa runtuhnya menara kembar World Trade Center (WTC) pada Selasa, 11 September 2001. Peristiwa tersebut menjadi titik balik penting yang tidak hanya mengubah lanskap keamanan global, tetapi juga memberi tekanan besar pada kehidupan sosial komunitas Muslim di New York, Amerika Serikat.
Kepanikan massal bermula pada pagi hari saat para komuter kereta bawah tanah R Line mendapati kabar bahwa gedung WTC dilanda kebakaran. Melalui siaran langsung di etalase perbankan kawasan Grand Central, warga menyaksikan benturan pesawat kedua ke menara kembar. Status darurat seketika diberlakukan di seluruh penjuru kota, memaksa staf Kantor Perwakilan Tetap RI (PTRI) untuk PBB dan sejumlah kantor perwakilan diplomatik dipulangkan lebih awal.
Ketegangan sosial kian meningkat ketika presenter CNN Wolf Blitzer menyiarkan laporan bahwa New York diserang oleh teroris, dengan menyertakan cuplikan perempuan berhijab yang sedang bersorak. Belakangan tayangan visual tersebut terbukti merupakan rekaman arsip lama yang tidak berkaitan dengan peristiwa penyerangan.
Ada Kritikan dari AHY, Tak Diduga Begini Respons Prabowo

Keputusan Majelis Imam dan Gelombang Intimidasi
Menghadapi situasi yang mencekam pada petang 11 September 2001, Majelis Syura para Imam se-Kota New York menyelenggarakan pertemuan darurat di Muslim Center of New York, kawasan Flushing. Kendati muncul opsi untuk menutup sementara operasional masjid guna menjaga keselamatan jemaah, forum majelis memutuskan untuk tetap membuka tempat ibadah seperti biasa.
Pada malam yang sama, The Interfaith Center of New York menghubungi tokoh Muslim Shamsi Ali untuk mewakili komunitas Islam dalam konferensi pers lintas agama. Langkah ini diambil untuk meredam spekulasi liar di tengah masyarakat.
Kendati upaya komunikasi dilakukan, gelombang intimidasi dan kekerasan rasial tetap terjadi dalam rentang hari-hari setelah tragedi. Tercatat insiden penembakan fatal terhadap seorang anggota komunitas, penikaman warga Afro-Amerika, penganiayaan terhadap perempuan berhijab di ruang publik, serta aksi perusakan sejumlah bangunan masjid. Bentuk provokasi lain juga muncul di Harlem saat seorang aktivis bernama Jack Lang merobek kitab suci Al-Qur'an di sebuah gereja warga kulit hitam.
Harlah ke-25 Demokrat, Sosok Ani Yudhoyono Dihadirkan Lewat AI

Rekonsiliasi Ground Zero dan Doa Bersama di Yankee Stadium
Di tengah eskalasi konflik horizontal, pendekatan rekonsiliasi terus diupayakan bersama para pemuka agama. Pada Jumat, 14 September 2001, Presiden George W. Bush mengundang perwakilan lintas iman, termasuk perwakilan komunitas Muslim, untuk bertemu sekaligus mendampingi kunjungan resmi perdananya ke lokasi reruntuhan Ground Zero.
Inisiatif pemulihan berlanjut lewat perhelatan akbar "Prayer for America" yang diadakan di Yankee Stadium pada 23 September 2001. Pertemuan doa lintas keyakinan tersebut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dan jajaran tokoh politik, di antaranya Bill Clinton, Hillary Clinton, Gubernur New York George Pataki, serta Wali Kota Rudy Giuliani, sebagai simbol komitmen bersama menolak perpecahan di tengah duka tragedi.






