Pemerintah menyiapkan strategi pemenuhan akses energi melalui Program Listrik Desa (Lisdes) periode 2025–2029 dengan target menjangkau 10.068 lokasi di berbagai wilayah Indonesia. Kebijakan ini berlandaskan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 316 Tahun 2025 tentang Pertajaman Program Listrik Pedesaan dan Bantuan Pasang Baru Listrik.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari memaparkan bahwa sebaran target 10.068 lokasi tersebut mencakup 8.561 desa, 2.295 kecamatan, 375 kabupaten/kota, yang tersebar di 36 provinsi. Dari keseluruhan target yang dicanangkan untuk periode lima tahun tersebut, elektrifikasi saat ini telah berhasil terealisasi di 1.516 lokasi atau sekitar 15 persen.
Pelaksanaan program Lisdes dijalankan secara bertahap, diawali dengan verifikasi lokasi di lapangan, penyusunan rancangan teknis beserta anggaran, pembangunan infrastruktur fisik, hingga tahap penyambungan daya dan pemeliharaan berkala.
Pencarian Terakhir Jurnalis Hilang di Selat Sunda, 24 Kapal Diterjunkan Sisir 8.500 Mil Laut

Perluasan Jaringan PLN dan Pembangkit EBT Mandiri
Untuk menuntaskan sisa target yang ada, pemerintah membagi penyediaan pasokan listrik ke dalam dua jalur teknis berdasarkan kondisi geografis dan jangkauan infrastruktur.
Skema pertama menyasar 5.466 lokasi yang letaknya memungkinkan untuk dihubungkan langsung ke sistem kelistrikan utama. Wilayah pada kelompok ini dipasok melalui penyambungan dan perluasan jaringan listrik PLN yang sudah ada (existing).
Daryono, Gempa Pangalengan Bukan Pertanda Pasti Adanya Gempa Besar

Sementara itu, skema kedua difokuskan pada 4.602 lokasi terisolasi yang belum dapat dijangkau oleh bentangan kabel transmisi PLN. Pada wilayah-wilayah terpencil ini, pasokan listrik akan dipenuhi melalui pembangunan pembangkit skala kecil berbasis Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang beroperasi secara mandiri atau off-grid.
Kebutuhan total kapasitas pembangkit baru untuk melayani seluruh 4.602 titik off-grid tersebut diperkirakan mencapai sekitar 508 MW. Penentuan jenis pembangkit EBT yang akan dibangun disesuaikan dengan ketersediaan potensi energi alami di masing-masing daerah, seperti tenaga surya, tenaga air, maupun biomasa.






