Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), resmi menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) dalam pertemuan kebijakan moneter pada Rabu (16/9). Langkah pengetatan ini menjadi kenaikan suku bunga pertama yang diambil The Fed sejak Juli 2023, sekaligus membuka peluang penyesuaian lanjutan hingga akhir tahun guna meredam laju inflasi.
Keputusan tersebut disepakati secara bulat lewat hasil pemungutan suara 12-0 oleh Federal Open Market Committee (FOMC). Dengan penambahan 25 bps tersebut, suku bunga acuan The Fed kini bergerak ke kisaran 3,75% hingga 4%.
FOMC menyatakan bahwa penyesuaian suku bunga ini diarahkan untuk mempercepat proses penurunan inflasi menuju target jangka panjang bank sentral sebesar 2%. Pengambil kebijakan menegaskan komitmen penuh untuk menjaga dan mewujudkan stabilitas harga di pasar domestik.
Buruh Tuntut Upah 2027 Naik 9,5%!

Ketua The Fed Kevin Warsh mengungkapkan bahwa tekanan inflasi di AS telah bertahan pada tingkat yang terlalu tinggi dalam durasi yang terlalu lama. Selain faktor inflasi yang masih melampaui sasaran, The Fed menimbang ketahanan ekonomi AS dan pasar tenaga kerja yang tetap solid, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Langkah bank sentral ini telah diantisipasi oleh para pelaku pasar keuangan. Sebelum rilis resmi diumumkan, estimasi pasar memperlihatkan probabilitas kenaikan suku bunga menembus angka lebih dari 90%.
Bahlil Siapkan Aturan Larang Orang Kaya 'Minum' BBM Subsidi

Proyeksi Inflasi dan Suku Bunga Lanjutan
Berdasarkan proyeksi ekonomi terbaru, mayoritas pejabat The Fed memperkirakan masih ada ruang untuk kembali menaikkan suku bunga hingga akhir tahun 2026. Penurunan suku bunga baru diproyeksikan mulai terjadi bertahap pada periode berikutnya, mencakup satu kali pemangkasan pada 2028 dan minimal satu kali pemangkasan suku bunga pada 2029.
Di sisi lain, The Fed juga merevisi proyeksi inflasi AS ke atas. Inflasi berbasis indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) diperkirakan menyentuh level 3,7%. Sementara itu, PCE inti鈥攜ang mengabaikan kelompok komponen pangan dan energi yang cenderung volatil鈥攄iproyeksikan bertengger di kisaran 3,4%.






