Aktivitas seismik di kawasan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengalami peningkatan setelah puluhan gempa tercatat sejak Rabu (16/9). Sebagian guncangan dari rentetan lindu tersebut turut dirasakan oleh warga setempat.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa aktivitas seismik tersebut masuk dalam kategori earthquake swarm atau gempa swarm. Pola ini ditandai dengan serangkaian gempa yang berulang di wilayah dan kurun waktu tertentu tanpa adanya gempa utama (mainshock) yang mendominasi secara nyata.
Daryono menegaskan bahwa kemunculan gempa swarm tidak berarti energi tektonik sedang dilepaskan seluruhnya ataupun menjadi indikasi mutlak akan datangnya peristiwa seismik berkekuatan besar.
Bakom Beberkan Dua Skema Pemenuhan Listrik di 10.068 Dusun Pelosok

"Swarm bukan pertanda gempa besar. Tidak ada dasar ilmiah untuk menyatakan bahwa rangkaian tersebut pasti akan berujung pada gempa besar," ujar Daryono.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa di Pangalengan masih terjadi pada Kamis (17/9) pukul 04.59 WIB dengan magnitudo 2,6. Pusat gempa berada di darat pada koordinat 7,22 Lintang Selatan dan 107,60 Bujur Timur, berjarak sekitar 23 kilometer arah selatan Kabupaten Bandung, pada kedalaman tiga kilometer.
Secara geologis, Pangalengan terletak di Jawa Barat bagian selatan yang memiliki deformasi kerak bumi kompleks serta berdekatan dengan jalur aktif Sesar Garsela (Garut Selatan). Subduksi Lempeng Indo-Australia yang menghujam ke bawah Lempeng Eurasia atau Lempeng Sunda di selatan Jawa terus memicu akumulasi dan redistribusi tegangan, yang kemudian dilepaskan melalui pergerakan sesar aktif.
Pencarian Terakhir Jurnalis Hilang di Selat Sunda, 24 Kapal Diterjunkan Sisir 8.500 Mil Laut

Karakter gempa yang berkedalaman dangkal menyebabkan getaran terasa nyata di permukaan meski magnitudonya kecil. Selain pelepasan energi yang dekat dengan permukaan, kondisi lapisan tanah berupa sedimen atau material vulkanik lunak di kawasan tersebut dapat memperkuat resonansi getaran tanah pada frekuensi tertentu.
Menghadapi aktivitas getaran yang masih berlangsung, masyarakat diimbau untuk memeriksa kekuatan struktur bangunan rumah dan mengamankan perabot yang rawan jatuh. Warga juga diminta mengenali tempat perlindungan yang aman serta memahami langkah penyelamatan diri drop, cover, and hold on ketika guncangan terjadi.






