PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB), yang juga dikenal luas oleh masyarakat sebagai BNC, secara resmi memberikan pandangannya mengenai imbauan terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Imbauan tersebut ditujukan bagi bank-bank yang saat ini berada di kategori Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) I agar segera mempersiapkan diri untuk naik kelas menjadi bank kategori KBMI II. Menanggapi arahan dari otoritas pengawas perbankan tersebut, Direktur Utama BNC, Eri Budiono, mengonfirmasi bahwa pihak manajemen telah melakukan pembicaraan secara intensif dengan para pemegang saham pengendali mengenai langkah-langkah yang perlu diambil ke depannya. BNC, yang saat ini beroperasi sebagai bank digital milik Akulaku, terus memantau perkembangan regulasi ini.
Sebagai informasi, klasifikasi perbankan di Indonesia menetapkan syarat yang ketat terkait permodalan. Untuk dapat masuk ke dalam kategori KBMI II, sebuah bank diwajibkan untuk memiliki modal inti dengan rentang antara Rp6 triliun hingga Rp14 triliun. Sementara itu, berdasarkan laporan keuangan perseroan yang berakhir pada periode 30 Juni 2026, modal inti minimum yang berhasil dicatatkan oleh BNC baru mencapai angka Rp4,09 triliun. Posisi permodalan tersebut menunjukkan bahwa bank digital ini masih membutuhkan tambahan modal yang signifikan untuk dapat memenuhi batas bawah ketentuan KBMI II yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan.
Meskipun dihadapkan pada kebutuhan penambahan modal tersebut, Eri Budiono menyatakan bahwa pihak manajemen BNC saat ini belum menetapkan lini masa atau target waktu khusus untuk mengejar pemenuhan modal inti sebesar Rp6 triliun. Menurut penjelasannya, perseroan masih dalam posisi menunggu terbitnya petunjuk teknis lebih lanjut dari Otoritas Jasa Keuangan. Petunjuk teknis ini dinilai sangat penting sebagai landasan bagi bank untuk merumuskan strategi kenaikan kelas ke KBMI II secara tepat. Untuk menjembatani kebutuhan modal di masa mendatang, BNC tetap membuka opsi pelaksanaan penambahan modal maupun berbagai aksi korporasi lainnya.
Breaking! BI Catat Utang Luar Negeri RI Tembus US$454,8 M di Juli

Di samping fokus pada pemenuhan modal inti, BNC juga masih memiliki tantangan pada struktur keuangannya. Bank digital ini tercatat masih memiliki saldo defisit yang belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp1,59 triliun. Kendati demikian, manajemen memiliki pandangan yang positif terhadap penyelesaian masalah tersebut. Eri Budiono memproyeksikan bahwa akumulasi defisit ini dapat diselesaikan secara bertahap. Apabila perseroan mampu terus mempertahankan kinerja operasional dan laju pertumbuhan bisnis seperti yang berjalan saat ini, manajemen menargetkan penyelesaian seluruh saldo defisit tersebut pada tahun 2027 mendatang.
Optimisme manajemen BNC dalam menghapus saldo defisit didukung oleh pencapaian kinerja keuangan yang solid sepanjang paruh pertama tahun ini. Pada periode semester I-2026, BNC sukses mencetak laba sebesar Rp294,85 miliar. Angka perolehan laba tersebut mencerminkan pertumbuhan positif sebesar 6,81 persen secara tahunan atau year on year (yoy) jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba ini menjadi salah satu indikator bahwa operasional bank berjalan dengan stabil. Selain mencetak laba yang bertumbuh, total aset yang dikelola oleh BNC juga menunjukkan angka yang substansial, yakni mencapai Rp17,45 triliun pada akhir Juni 2026.
BEI Mulai Terapkan Skema Transaksi Short Selling secara Bertahap

Dari sisi penghimpunan dana, posisi likuiditas bank juga menunjukkan hasil yang positif. Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dikumpulkan oleh perseroan mencapai Rp12,30 triliun pada semester pertama 2026. Secara lebih rinci, komponen dana tabungan mengalami peningkatan menjadi Rp3,39 triliun, atau tumbuh sebesar 2,10 persen secara tahunan. Pertumbuhan dana ini turut berkontribusi pada kemampuan bank dalam mencetak pendapatan. Hal ini tercermin dari Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) BNC yang tercatat mencapai Rp1,11 triliun. Tidak hanya mengandalkan pendapatan bunga, pendapatan berbasis komisi (Fee Based Income) perseroan juga menunjukkan kinerja impresif dengan peningkatan menjadi Rp59,66 miliar, yang berarti tumbuh sebesar 6,77 persen yoy.






