PT Bank SMBC Indonesia Tbk resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Asian Development Bank (ADB) untuk memperkuat kapabilitas pembiayaan perdagangan dan rantai pasok (trade and supply chain financing). Sinergi ini ditujukan guna mendukung terbangunnya ekosistem perdagangan yang lebih efisien, tangguh, serta berkelanjutan di Indonesia.
Dalam kemitraan ini, kedua institusi menerapkan skema partisipasi risiko tanpa pendanaan (unfunded risk participation scheme). Melalui mekanisme tersebut, ADB memposisikan diri sebagai mitra partisipasi risiko strategis atas portofolio pembiayaan perdagangan dan rantai pasok yang dikelola oleh Bank SMBC Indonesia.
Wakil Direktur Utama Bank SMBC Indonesia Jun Saito menjelaskan bahwa langkah kerja sama dengan lembaga multilateral tersebut dirancang untuk membantu perseroan memperluas jangkauan pembiayaan kepada para pelaku industri lintas segmen secara terukur.
Danantara Tepis Isu Kredit Macet, Pinjaman Dijamin Negara Pasti Aman

Kendati bermitra dengan ADB dalam pembagian risiko, Bank SMBC Indonesia tetap menjalankan secara penuh seluruh tahapan operasional, mulai dari proses inisiasi (origination), administrasi, pengelolaan, hingga pengawasan transaksi. Kerangka kerja operasional yang diterapkan mencakup proses uji tuntas nasabah (customer due diligence), pemenuhan kepatuhan regulasi, serta pemantauan portofolio berkelanjutan yang berpedoman pada prinsip kehati-hatian dan standar perbankan internasional.
Kinerja Kredit Segmen Korporasi dan Anak Usaha
Langkah penguatan fasilitas pembiayaan perdagangan ini melengkapi catatan kinerja intermediasi Bank SMBC Indonesia. Berdasarkan data per akhir Juni 2026, perseroan membukukan pertumbuhan kredit konsolidasi pada segmen korporasi dan komersial sebesar 12,8 persen secara tahunan (year-on-year) dengan total nilai mencapai Rp 116,5 triliun.
Literasi Keuangan RI Lampaui Target 2029, Lebih Cepat 3 Tahun

Kinerja positif di segmen bisnis korporasi tersebut sejalan dengan pertumbuhan pada pilar-pilar pembiayaan lainnya. Pada periode yang sama, layanan perbankan digital Jenius mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 9,9 persen secara tahunan menjadi Rp 3,69 triliun, sementara pembiayaan BTPN Syariah tercatat naik 8,7 persen menjadi Rp 11,03 triliun.
Selain itu, lini pembiayaan melalui anak usaha perseroan, yakni OTO dan SOF, juga menunjukkan tren ekspansi dengan kenaikan sebesar 5,8 persen secara tahunan hingga mencapai Rp 31,89 triliun per akhir Juni 2026.






