Berita Viral Terkini

BRIN Ubah Residu Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Cair Setara Solar di Bantul

Marthen PalutunganPublished 27 Jul 2026 - 00.500 Reads
Bagikan WhatsAppX
BRIN Ubah Residu Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Cair Setara Solar di Bantul
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan inovasi terbaru berupa teknologi pirolisis bernama Fastpol untuk mengatasi masalah limbah yang sulit didaur ulang. Teknologi ini mampu mengubah sampah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar cair yang disebut Petasol. Peluncuran inovasi tersebut dilaksanakan di Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Selasa (9/6/2026). Langkah ini dihadirkan sebagai solusi atas penumpukan residu plastik sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Teknologi Fastpol bekerja dengan cara mengolah berbagai jenis residu, termasuk kemasan multilayer serta plastik campuran yang sudah tidak memiliki nilai jual di pasaran. Periset Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Heru Susanto, menerangkan bahwa sistem ini menggunakan metode dekomposisi termokimia. Material plastik dipanaskan pada suhu antara 250 hingga 350 derajat Celcius dengan kondisi minim atau bahkan tanpa oksigen. Menurut Heru, mekanisme tersebut pada dasarnya mengembalikan plastik yang bersumber dari minyak bumi menjadi bentuk bahan bakar kembali. Bahan bakar cair yang dihasilkan dari proses ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan mesin diesel.

Dalam keterangannya pada Sabtu (27/6/2026), Heru menyebutkan bahwa setiap satu kilogram sampah plastik residu dapat dikonversi menjadi sekitar 0,8 hingga 0,9 liter Petasol. Proses pengubahan wujud dari limbah padat menjadi bahan bakar cair ini membutuhkan waktu kurang lebih tujuh hingga delapan jam. Setelah proses pemanasan selesai, cairan yang dihasilkan tidak langsung bisa dipakai, melainkan harus melewati tahapan penjernihan serta penyaringan terlebih dahulu. Heru menegaskan bahwa fokus utama dari kegiatan ini adalah pengurangan sampah plastik yang selama ini hanya mengendap di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) maupun bank sampah. Adapun produk Petasol dianggap sebagai bonus yang memberikan daya tarik ekonomi bagi pelaku daur ulang.

Also Read

Gerbang Tol Tomang Ditutup Akhir Pekan Ini Berikut Jalur Alternatifnya

Dari segi kualitas, bahan bakar alternatif ini menunjukkan performa yang sangat menjanjikan. Direktur Alih dan Sistem Audit Teknologi BRIN, Edi Hilmawan, memaparkan bahwa Petasol memiliki kualitas pembakaran yang melebihi standar solar konvensional. Berdasarkan hasil pengujian, angka setana (cetane number) pada Petasol mencapai angka 51. Angka ini berada di atas standar solar umum yang biasanya hanya berkisar di angka 48. Edi menjelaskan bahwa tingginya angka setana merupakan indikator utama kualitas pembakaran yang sangat baik pada bahan bakar diesel, sehingga secara prinsip aman digunakan untuk kendaraan. Meski demikian, pihak BRIN masih terus melakukan penyempurnaan terhadap beberapa parameter, termasuk berat jenis dan aspek regulasi yang berlaku.

Walaupun mesin pirolisis ini terbukti efektif, Heru mengingatkan bahwa keberhasilan pengolahan sampah tidak semata-mata bergantung pada kecanggihan teknologi. Pemilahan limbah sejak dari skala rumah tangga tetap menjadi faktor penentu, mengingat tingginya biaya pemilahan masih menjadi tantangan terbesar di lapangan. Oleh karena itu, kolaborasi dengan pegiat lingkungan seperti Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pilah Berkah dinilai sangat penting. KSM tersebut dinilai mampu memberikan layanan paripurna dalam mengangkut sampah yang sudah terpilah. Dukungan basis data waktu nyata dalam kolaborasi ini juga menjadi kekuatan tersendiri untuk mewujudkan manajemen pengelolaan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Also Read

Keberanian Melepas Pekerjaan yang Mengantar Pujo Pramono Menjadi Direktur Anak Usaha BUMN

Inovasi pengolahan limbah ini disambut baik oleh pemerintah daerah setempat. Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, menyatakan bahwa kehadiran teknologi Fastpol menjawab dua permasalahan sekaligus, yaitu krisis penumpukan sampah dan kebutuhan energi alternatif. Halim mengungkapkan bahwa wilayah Kabupaten Bantul memproduksi sekitar 600 ton sampah setiap harinya, dan sekitar 30 persen dari total tersebut merupakan limbah plastik. Dengan volume yang begitu besar, potensi pemanfaatan sampah menjadi bahan bakar dinilai sangat prospektif. Melalui sinergi antara peneliti, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat, inovasi ini diharapkan dapat menjadi percontohan pengelolaan terpadu yang mendukung ekonomi sirkular di Indonesia.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca