Pengelolaan jalan tol di Indonesia kini tidak lagi hanya bertumpu pada pembangunan fisik dan capaian volume kendaraan semata. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mendorong transformasi BUMN sektor transportasi, khususnya operator jalan tol, agar berfokus pada peningkatan mutu layanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sorotan terhadap standar operasional tersebut disampaikan oleh Senior Director Transportation Sector Danantara Aset Manajemen (DAM), Wamildan Tsani Panjaitan, saat berkunjung ke Danantara Housing Expo 2026 pada Senin (31/8/2026). Wamildan menegaskan bahwa tolak ukur keberhasilan BUMN pengelola jalan tol seperti PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) telah bergeser dari sekadar indikator finansial dan konstruksi.
Menurut Wamildan, pertumbuhan traffic, perolehan pendapatan tol, maupun penyelesaian proyek strategis bukanlah satu-satunya parameter utama. Kualitas layanan kini ditentukan oleh kemudahan akses, kelancaran lalu lintas, kondisi jalan yang selalu terawat, jaminan keselamatan pengguna, serta kecepatan petugas dalam mengantisipasi maupun menangani gangguan di lapangan.
Tak Berizin, OJK Stop Usaha Dua Platform Pedagang Kripto

Transformasi dari Infrastruktur Menuju Budaya Layanan
Menanggapi arahan tersebut, Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono memaparkan bahwa perseroan tengah menjalankan transformasi paradigma operasional, yakni peralihan dari infrastructure menjadi infraculture.
Pergeseran ini menempatkan jalan tol bukan semata sebagai aset beton dan aspal, melainkan sebagai fondasi budaya pelayanan terpadu yang berorientasi pada pengalaman perjalanan pengguna jalan secara menyeluruh.
Integrasi Ekosistem Digital Lewat Travoy
Sebagai langkah nyata penguatan layanan, Danantara mendorong optimalisasi aplikasi Travoy agar seluruh kebutuhan pengendara terintegrasi ke dalam satu ekosistem digital.
UMKM Terdampak Kebakaran Desa Sade Bakal Dapat Bantuan

Melalui platform Travoy, pengguna jalan tol dapat mengakses berbagai fitur, mulai dari transaksi struk digital (digital receipt), pengisian saldo (top up), hingga transaksi nirsentuh berbasis stiker Radio Frequency Identification (RFID) saat melewati gerbang tol.
Selain urusan transaksi gerbang, ekosistem tersebut memuat panduan fasilitas Travoy Rest untuk memantau ketersediaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) serta Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di rest area. Apabila pengendara menghadapi kendala teknis atau situasi darurat di rute tol, aplikasi menyediakan akses cepat ke layanan One Call Center 133 untuk memanggil bantuan armada derek dan petugas penanganan lapangan.






