Ketergantungan ekonomi nasional pada pasar domestik dinilai belum cukup untuk menjaga ketahanan mata uang rupiah secara jangka panjang. Ekonom Senior Didik J Rachbini menilai sistem dan kebijakan ekonomi Indonesia perlu bertransformasi menjadi lebih berorientasi keluar (outward looking) dengan memperkuat sektor eksternal demi memupuk cadangan devisa.
Menurut Didik, Indonesia membutuhkan peningkatan transaksi bisnis yang mampu menghasilkan pendapatan riil dari luar negeri, bukan sekadar memutar perputaran uang dari konsumen dalam negeri. Kebijakan ekonomi berbasis ekspor dinilai mendesak guna mengalirkan pasokan valuta asing dalam jumlah signifikan, terutama dolar AS, sebagai penopang nilai tukar.
Skala kegiatan ekonomi domestik saat ini memang terbukti membuka lapangan kerja, menghasilkan laba korporasi, serta mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Namun, aktivitas yang terpusat di dalam negeri tersebut tidak secara langsung membawa masuk devisa segar ke kas negara.
Penjualan Mobil Meledak Lagi, Agustus Cetak Rekor 2026-Berkah GIIAS

Perbandingan Cadangan Devisa Kawasan
Kondisi sektor eksternal tercermin langsung pada posisi cadangan devisa Indonesia. Berdasarkan data akhir Juli 2026, cadangan devisa nasional tercatat berada di kisaran 145,3 miliar dolar AS.
Angka tersebut dinilai masih tertinggal jika disandingkan dengan sejumlah negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Singapura saat ini mengantongi cadangan devisa hingga sekitar 426,2 miliar dolar AS. Sementara itu, Thailand yang sempat mengalami krisis mata uang pada 1998 kini mencatatkan cadangan devisa mencapai sekitar 279,2 miliar dolar AS, atau hampir dua kali lipat cadangan devisa Indonesia. Di sisi lain, Malaysia yang memiliki basis populasi lebih ringkas mencatatkan cadangan devisa sekitar 132,6 miliar dolar AS.
Breaking News! IHSG Naik 1%, Sedikit Lagi Sentuh Level 6.700

Didik menegaskan bahwa penguatan daya saing ekspor menjadi kunci utama bagi stabilitas moneter ke depan. Bank Indonesia dinilai tidak bisa dibebani target menjaga stabilitas rupiah dalam lima tahun mendatang hanya dengan mengandalkan instrumen suku bunga, terutama jika struktur penopang ekonominya masih minim pasokan devisa dari pasar internasional.






