Dunia kedokteran Indonesia tengah disorot menyusul laporan meninggalnya sejumlah dokter muda yang sedang menjalani Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI). Berdasarkan catatan Asosiasi Program Internship Dokter Indonesia dan Program Internsip Dokter Gigi Indonesia (Asosiasi PIDI-PIDGI), setidaknya terdapat enam dokter peserta PIDI yang meninggal dunia pada periode Februari hingga Juli 2026.
Kasus terbaru yang menyita perhatian publik adalah kematian dokter internship berinisial dr. SZM. Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin tersebut diduga melompat dari lantai 18 sebuah apartemen di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, pada Minggu (26/7/2026). Diketahui, korban tengah menjalani program internsip di RS Sentra Medika Cisalak, Depok, Jawa Barat, sejak Mei 2026. Terkait insiden ini, Kapolsek Pancoran Kompol Mansur pada Selasa (28/7/2026) menyatakan bahwa pihak kepolisian mendapati pintu kamar apartemen di lantai 18 yang dihuni dr. SZM dalam kondisi terkunci dari dalam.
Sebelumnya, seorang alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) angkatan 2025, dr. M. Zulfikar Drakel, M.Res., juga ditemukan meninggal dunia di kamar indekosnya di Lampung pada Selasa (21/7/2026). Korban dilaporkan sempat putus kontak selama tiga hari sebelum akhirnya ditemukan. Dr. Zulfikar meninggal saat berstatus sebagai dokter yang bertugas di RSUD Sukadana, Lampung Timur. Kementerian Kesehatan telah melakukan investigasi terkait kasus ini dan menyimpulkan bahwa kematiannya tidak berhubungan dengan dugaan perundungan.
Dijanjikan Hingga Rp 55 Ribu, 83 Anak Diduga Direkrut Kerusuhan 27 Agustus

Selain kedua peristiwa tersebut, empat peserta PIDI lainnya turut dilaporkan meninggal dunia sejak Februari 2026 dengan berbagai penyebab medis. Pada 1 Mei 2026, dr. Myta Aprilia Azmy, peserta PIDI Angkatan Agustus 2025 yang bertugas di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi, ditemukan meninggal dunia akibat infeksi paru berat.
Kasus kematian lainnya menimpa dr. Andito Muhammad Wibisono, peserta PIDI Angkatan Agustus 2025 di RSUD Pagelaran, Cianjur, yang wafat pada 26 Maret 2026. Beberapa hari sebelumnya, yakni pada 17 Maret 2026, dr. Edgar Bezaliel Hartanto yang bertugas di RS Bhayangkara, Denpasar, sebagai peserta Angkatan Mei 2025, mengembuskan napas terakhir karena demam berdarah dengue (DBD). Sementara itu, dr. Kartika Ayu Permatasari, peserta PIDI Angkatan Agustus 2025 di RS Bina Bhakti Husada, Rembang, dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi campak pada 25 Februari 2026.
Rentetan insiden ini mengundang respons dari berbagai pihak. Anggota Komisi X DPR, Syarief Muhammad, secara tegas meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus kematian dokter internship tersebut demi memastikan kejelasan peristiwanya.
Demi Persija vs Persib, The Jakmania Rela Datang dari Luar Jakarta

Di sisi lain, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang juga menjabat sebagai Direktur Program Pasca Sarjana Universitas YARSI Jakarta, Tjandra Yoga Aditama, menyoroti pentingnya keselamatan tenaga medis. Ia merekomendasikan agar pemerintah beserta para pemangku kepentingan segera mengadopsi standar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengenai perlindungan tenaga kesehatan.
Rekomendasi internasional tersebut tertuang secara spesifik dalam pedoman "Caring for Those Who Care: Guide for the Development and Implementation of Occupational Health and Safety Programmes for Health Workers". Selain itu, langkah perlindungan ini juga sejalan dengan Resolusi World Health Assembly (WHA) ke-74 yang membahas tentang "Protecting, Safeguarding and Investing in the Health and Care Workforce".






