PT Freeport Indonesia (PTFI) terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan kapasitas produksi mineral di Indonesia melalui proyek tambang bawah tanah baru. Perusahaan menargetkan tambang bawah tanah yang diberi nama Kucing Liar ini dapat mulai beroperasi pada tahun 2029 mendatang. Proyek tambang baru ini diproyeksikan akan menjadi salah satu pilar penting bagi kelangsungan operasional PTFI di masa depan. Pengembangan tambang bawah tanah Kucing Liar sendiri sebenarnya bukan merupakan rencana yang baru saja dimulai, melainkan sudah berjalan dan dikembangkan oleh pihak perusahaan sejak tahun 2022 lalu.
Secara geografis, tambang bawah tanah Kucing Liar ini terletak di kawasan Grasberg, yang berada di wilayah Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Lokasi ini memang dikenal memiliki potensi sumber daya mineral yang sangat besar. Kehadiran proyek tambang Kucing Liar ini diharapkan mampu menjadi salah satu sumber utama untuk menopang produksi tembaga serta emas PTFI. Perusahaan memproyeksikan kontribusi besar dari tambang ini akan berlangsung dalam kurun waktu 10 tahun, menjadikannya aset strategis bagi keberlanjutan bisnis pertambangan mereka di wilayah tersebut.
Untuk merealisasikan proyek skala besar ini, PTFI telah mengalokasikan dan menggelontorkan dana investasi yang sangat besar. Berdasarkan keterangan dari Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, pengembangan proyek tambang Kucing Liar saat ini masih terus berjalan. Hingga tanggal 30 Juni 2026, PTFI tercatat telah membelanjakan investasi setidaknya mencapai US$ 1,4 miliar. Jika dikonversikan ke dalam mata uang rupiah dengan asumsi nilai tukar sebesar Rp 17.923 per dolar AS, nilai investasi awal yang telah dikeluarkan tersebut setara dengan kurang lebih Rp 25 triliun.
IHSG Melemah Tinggalkan Level 6.400, Asing Justru Catat Pembelian Bersih Jumbo

Kebutuhan dana untuk menyelesaikan proyek tambang bawah tanah ini dipastikan masih akan terus bertambah seiring berjalannya proses pembangunan. Pihak PTFI memperkirakan bahwa kebutuhan investasi tambahan yang diperlukan untuk menuntaskan proyek Kucing Liar ini akan mencapai sekitar US$ 4 miliar atau setara dengan Rp 71,69 triliun. Alokasi tambahan anggaran yang sangat besar ini diproyeksikan akan terus dikucurkan guna mendukung kelanjutan pembangunan serta pengembangan proyek hingga tahun 2033 mendatang.
Dari sisi kapasitas dan operasional, tambang bawah tanah Kucing Liar dirancang untuk memiliki kapasitas desain yang sangat besar, yakni ditargetkan mampu mencapai sekitar 130.000 metrik ton bijih per hari. Setelah mulai beroperasi pada tahun 2029, volume produksi dari tambang ini ditargetkan akan mulai mengalami peningkatan atau memasuki fase ramp-up sekitar tahun 2030. Dengan kapasitas desain tersebut, PTFI optimistis dapat mengoptimalkan potensi kandungan mineral yang ada di kawasan Grasberg secara berkelanjutan.
Pemerintah Tetapkan Verifikasi BPHTB 3 Hari dan Balik Nama Tanah Maksimal 10 Hari

Ketika nantinya tambang Kucing Liar ini sudah beroperasi secara penuh, kapasitas produksinya diperkirakan akan memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap total produksi perusahaan. Tambang bawah tanah ini diperkirakan mampu menghasilkan rata-rata sekitar 750 juta pon tembaga per tahun. Tidak hanya tembaga, Kucing Liar juga diproyeksikan dapat menghasilkan sekitar 735.000 ons emas per tahun. Angka produksi yang besar ini mempertegas peran penting tambang Kucing Liar sebagai salah satu sumber utama penghasil tembaga dan emas bagi PTFI dalam jangka panjang.






