Pasar saham Indonesia mengawali pekan kedua Agustus 2026 dengan tekanan yang cukup signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk hingga meninggalkan level psikologis 6.400 pada perdagangan hari Senin, 10 Agustus 2026. Koreksi ini menandai awal pekan yang cukup menantang bagi para pelaku pasar di tanah air, setelah indeks terus berupaya mempertahankan posisinya di zona hijau pada periode sebelumnya.
Berdasarkan data perdagangan pada hari tersebut, IHSG ditutup melemah sebesar 0,69 persen ke posisi 6.365,3. Penurunan ini didorong oleh melemahnya mayoritas saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Secara keseluruhan, pergerakan saham didominasi oleh tren penurunan dengan tercatat sebanyak 329 saham mengalami pelemehan. Sementara itu, hanya ada 287 saham yang berhasil ditutup menguat, dan 180 saham lainnya bergerak stagnan tanpa mengalami perubahan harga.
Meskipun indeks berada di zona merah, aktivitas perdagangan di lantai bursa terpantau sangat ramai. Nilai transaksi harian pada Senin kemarin sukses menembus angka Rp18,20 triliun. Likuiditas pasar yang tinggi ini juga tecermin dari volume perdagangan yang mencapai 46,97 miliar saham, serta frekuensi transaksi yang menyentuh angka 2,62 juta kali transaksi. Tingginya volume dan frekuensi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar tetap aktif melakukan transaksi di tengah tekanan jual yang melanda indeks.
Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI, Airlangga Hartanto Beri Dukungan

Di tengah kondisi IHSG yang memerah tersebut, pergerakan investor asing justru menunjukkan dinamika yang menarik untuk dicermati. Investor asing secara akumulatif mencatatkan aksi beli bersih (net buy) yang tergolong jumbo di seluruh pasar, dengan nilai mencapai Rp829,70 miliar. Masuknya dana asing ini mengindikasikan adanya ketertarikan kuat terhadap saham-saham domestik saat harganya sedang terkoreksi.
Jika ditelisik lebih mendalam berdasarkan segmen pasarnya, terjadi perbedaan arah transaksi yang sangat kontras antara pasar reguler dengan pasar non-reguler. Di pasar reguler, investor asing sebenarnya melakukan aksi lepas saham dengan membukukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp875,51 miliar. Namun, tekanan jual di pasar reguler tersebut berhasil dikompensasi oleh arus modal masuk yang sangat besar di pasar negosiasi dan tunai. Di kedua pasar non-reguler tersebut, pemodal asing mencatatkan pembelian bersih fantastis hingga mencapai Rp1,71 triliun.
MIND ID Kuasai 34 Persen Saham Vale Indonesia di Tengah Dinamika Kinerja Industri Tambang

Aksi akumulasi asing ini secara khusus menyasar beberapa emiten tertentu di bursa. Berdasarkan data yang dihimpun dari Stockbit, terdapat 10 saham yang paling banyak diburu oleh investor asing melalui aksi net foreign buy di tengah pelemahan indeks tersebut. Meskipun rincian daftar emiten ini menunjukkan konsentrasi transaksi di pasar negosiasi dan tunai, pergerakan ini memperlihatkan bahwa investor institusi asing tetap melihat peluang investasi jangka panjang di Indonesia.
Fenomena masuknya dana asing dalam jumlah besar ke pasar negosiasi dan tunai di kala IHSG melemah mencerminkan strategi investasi yang terencana. Transaksi di pasar tersebut biasanya melibatkan kesepakatan besar antar-institusi yang tidak langsung memengaruhi harga saham di pasar reguler secara instan. Bagi para pelaku pasar ritel domestik, pergerakan modal asing ini tetap menjadi salah satu indikator penting untuk memetakan ke mana arah minat investasi asing selanjutnya di pasar modal Indonesia.






