Kepemilikan saham MIND ID di PT Vale Indonesia Tbk (INCO) resmi mencapai 34 persen setelah perusahaan holding BUMN industri pertambangan tersebut menyelesaikan akuisisi 14 persen saham tambahan. Pembelian saham ini menambah kepemilikan 20 persen yang telah dikuasai sebelumnya, sekaligus mengukuhkan posisi MIND ID sebagai pemegang saham pengendali di perusahaan nikel tersebut.
Dalam masa transisi kepemilikan ini, PT Vale Indonesia Tbk mencatatkan dinamika kinerja operasional dan keuangan pada paruh pertama 2025. Produksi nikel matte pada kuartal II 2025 tumbuh 9 persen menjadi 18.557 metrik ton dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar 17.027 metrik ton. Namun, volume penjualan sepanjang semester I 2025 turun menjadi 35.119 metrik ton dari 35.680 metrik ton pada semester I 2024. Penurunan volume penjualan yang berbarengan dengan melesunya harga rata-rata nikel matte dari US$ 13.418 per ton menjadi US$ 12.014 per ton menekan pendapatan perseroan dari US$ 478,75 juta menjadi US$ 426,73 juta.
Secara kuartalan, laba bersih Vale Indonesia tercatat merosot tajam dari US$ 21,8 juta pada kuartal I 2025 menjadi US$ 3,5 juta pada kuartal II 2025. Pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perseroan sepanjang semester I 2025 juga terkoreksi menjadi US$ 91,7 juta dari US$ 124,85 juta pada periode yang sama tahun lalu. Di tengah tantangan finansial tersebut, emiten berkode INCO ini mengantongi persetujuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) sekitar 2,2 juta ton bijih saprolit dari blok Bahodopi. Di pasar modal, pergerakan saham perseroan mencatatkan aksi jual bersih investor asing sebesar Rp 172,08 miliar sepanjang 2025, sementara Mirae Asset memberikan rekomendasi Accumulative Buy dengan target harga Rp 4.190 per lembar saham.
Perkembangan Bursa Karbon Indonesia di Tengah Regulasi Baru

Langkah konsolidasi atas PT Vale Indonesia Tbk menjadi bagian dari ekspansi portofolio BUMN tambang di bawah MIND ID. Sepanjang tahun 2024, MIND ID membukukan nilai aset sebesar Rp 259 triliun, pendapatan Rp 145 triliun, serta laba bersih mencapai Rp 40 triliun. Dari pencapaian tersebut, kontribusi dividen grup kepada Kementerian Keuangan menyentuh Rp 20 triliun. Penguatan kepemilikan saham di sektor strategis ini menyusul rekam jejak akuisisi 51 persen saham Freeport Indonesia oleh INALUM pada tahun 2019 senilai US$ 5 miliar, yang secara akumulatif telah menyetor dividen sebesar Rp 90 triliun ke MIND ID dan kas negara.
Kondisi pasar komoditas global pada semester I 2025 juga turut berdampak pada kinerja anggota holding MIND ID lainnya. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan penurunan laba bersih 59 persen menjadi Rp 833,04 miliar, meskipun pendapatan perseroan tumbuh 4,12 persen menjadi Rp 20,45 triliun. Pada saat yang bersamaan, PT Timah Tbk (TINS) mengalami penurunan laba bersih 30,93 persen menjadi Rp 300,07 miliar dan pendapatan terkoreksi 19 persen menjadi Rp 4,22 triliun dengan pencapaian EBITDA sebesar Rp 838 miliar. Aksi jual bersih investor asing sepanjang 2025 juga tercatat melanda saham TINS sebesar Rp 436,81 miliar dan PTBA sebesar Rp 196,04 miliar.
Harga Sembako di Jawa Timur dan Nasional Berfluktuasi pada 10 Agustus 2026

Di sisi lain, agenda hilirisasi industri pertambangan tetap dipacu oleh grup MIND ID. INALUM dan ANTM telah meresmikan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase 1 di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, yang memiliki kapasitas produksi sebesar 1 juta ton alumina per tahun. Selain itu, pada tahun 2024, ANTM juga telah membangun smelter feronikel di Halmahera Timur dengan nilai investasi mencapai Rp 3,5 triliun dan kapasitas produksi sebesar 13.500 metrik ton per tahun.






