Sinyal perubahan doktrin pertahanan mengemuka dari Teheran setelah rentetan serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS). Pejabat tinggi keamanan Iran mengindikasikan bahwa pemerintahnya berpeluang meninjau ulang opsi kepemilikan senjata nuklir. Tindakan militer Washington dinilai semakin memperkuat argumentasi internal di Teheran bahwa kepemilikan bom atom dapat berfungsi sebagai alat pencegahan mutlak dari ancaman agresi luar.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran sekaligus mantan Komandan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), Mohsen Rezaei, dalam sebuah wawancara di televisi pemerintah. Rezaei menegaskan bahwa eskalasi serangan dari AS memicu pertanyaan mendasar di kalangan publik dan pengambil kebijakan mengenai pentingnya mengembangkan persenjataan nuklir secara mandiri demi menjaga kedaulatan negara.
Sikap Teheran terhadap Efektivitas Sistem Non-Proliferasi Nuklir
Dalam keterangannya, Mohsen Rezaei menyoroti bahwa kepatuhan terhadap sistem non-proliferasi nuklir global terbukti hanya memberikan sedikit perlindungan dari ancaman serangan militer nyata. Sikap agresif Washington dinilai telah meruntuhkan kepercayaan internasional terhadap efektivitas Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Rezaei mempertanyakan dampak konkret dari kepatuhan terhadap perjanjian internasional tersebut ketika sebuah negara tetap menjadi sasaran aksi militer. Menurutnya, ketika AS melancarkan serangan secara terbuka, masyarakat secara alami mempertanyakan manfaat dari pembatasan nuklir dan mulai melihat perlunya mengejar kemampuan senjata nuklir sendiri.
Pramono Kasih Bocoran Tarif Tiket LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

Sebelumnya, Iran telah bergabung ke dalam NPT dan sempat menyepakati perjanjian Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2015. Namun, kesepakatan JCPOA tersebut dibatalkan secara sepihak oleh Presiden AS Donald Trump pada masa jabatan pertamanya. Rezaei juga mengingatkan bahwa tingkat pengamanan serta inspeksi fasilitas nuklir yang diberlakukan terhadap Iran selama dua dekade terakhir merupakan yang paling ketat dan belum pernah terjadi di wilayah lain di dunia.
Perhitungan Efisiensi Penangkal Militer Menurut Pandangan Teheran
Dari sudut pandang kalkulasi pertahanan, Mohsen Rezaei memaparkan perbandingan efisiensi biaya antara senjata nuklir dan alutsista konvensional. Ia berargumen bahwa memiliki kemampuan senjata nuklir dapat menjadi pilihan yang jauh lebih murah dan lebih berdaya guna tinggi sebagai instrumen pencegahan dibandingkan dengan pengadaan alutsista bernilai fantastis, seperti pembelian ratusan unit pesawat tempur siluman F-35 maupun belanja militer skala besar lainnya.
Atas dasar perkembangan tersebut, Rezaei secara langsung menyalahkan tindakan militer Donald Trump yang dinilai merusak tatanan sistem non-proliferasi internasional secara luas. Kebijakan menyerang Iran dipandang sebagai langkah keliru yang justru menciptakan preseden berbahaya dan mendorong pergeseran doktrin pertahanan kawasan ke arah perlombaan senjata non-konvensional.
Kapal Migran Menuju Italia Tenggelam, Kerusuhan Pecah di Ben Guerdane Tunisia

Kebuntuan Diplomasi Pascaperang dengan Washington
Kondisi geopolitik saat ini kian memanas seiring terhentinya jalur perundingan diplomatik pascaperang serta mandeknya kesepakatan gencatan senjata. Di sisi lain, pemerintah AS di Washington mulai mengalihkan fokus kebijakannya pada penerapan tekanan ekonomi yang kian intensif terhadap Teheran.
Menghadapi kebuntuan tersebut, pihak keamanan tertinggi Iran mengeluarkan peringatan tegas mengenai arah kebijakan militer negara tersebut. Rezaei menegaskan bahwa Teheran tidak akan ragu untuk beralih dan menerapkan strategi militer yang ofensif penuh apabila seluruh proses diplomatik yang tersisa terbukti menemui kegagalan total.






