Berita Viral Terkini
BerandaHukumPolitikEkonomiPemerintahanBisnisSosialPeristiwaNasionalMegapolitanInternasionalOlahragaOtomotifPariwisataTeknologiWisataKesehatanHiburanMetroKriminalMetropolitanLingkunganPendidikanKebudayaanMusikGaya HidupTransportasiKeuanganSainsEdukasiManajemenReligiBerita NasionalBerita DaerahBerita BudayaHukum & KriminalBeritaKetenagakerjaanPertanianEkonomi dan BisnisEkonomi & BisnisPopuler
Beranda/Ekonomi

Gubernur Sementara BI Tegaskan Dampak Era Suku Bunga Tinggi Global terhadap Ekonomi Indonesia

Wahyu SuryaniDiterbitkan 31 Jul 2026 - 20.20 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Gubernur Sementara BI Tegaskan Dampak Era Suku Bunga Tinggi Global terhadap Ekonomi Indonesia
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Gubernur sementara Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memberikan pandangan mendalam terkait dinamika perekonomian global terkini yang dipicu oleh arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat. Destry secara tegas mengungkapkan bahwa saat ini dunia tengah bersiap menghadapi era baru di mana suku bunga acuan global akan bertahan di level yang tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. Fenomena ini secara luas dikenal di pasar keuangan global dengan sebutan "higher for longer". Pernyataan ini disampaikan oleh Destry Damayanti dalam sebuah media briefing yang diselenggarakan secara daring pada hari Jumat, 31 Juli 2026.

Berita Viral Terkini

Copyright 2026 Berita Viral Terkini - All Rights Reserved.

Kategori

HukumPolitikEkonomiPemerintahanBisnisSosialPeristiwaNasionalMegapolitanInternasionalOlahragaOtomotifPariwisataTeknologiWisataKesehatanHiburanMetroKriminalMetropolitanLingkunganPendidikanKebudayaanMusikGaya HidupTransportasi

Pernyataan dari Gubernur sementara Bank Indonesia tersebut disampaikan untuk merespons hasil keputusan pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang diselenggarakan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau yang lazim disebut The Fed. Pertemuan penting otoritas moneter Amerika Serikat ini telah berlangsung pada hari Kamis dini hari waktu Indonesia, tepatnya pada tanggal 30 Juli 2026. Dalam pengumuman hasil pertemuan tersebut, The Fed memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan Fed Fund Rate di level 3,50 persen hingga 3,75 persen. Keputusan ini menjadi sorotan utama karena memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan ekonomi global ke depan.

Walaupun The Federal Reserve memilih untuk menahan suku bunga pada tingkat 3,50 persen hingga 3,75 persen, sinyal kebijakan yang diberikan ke depan menunjukkan kewaspadaan yang sangat tinggi. Otoritas moneter Amerika Serikat tersebut secara jelas memfokuskan perhatian mereka untuk menekan gejolak inflasi domestik di negaranya. Fokus yang ketat terhadap upaya pengendalian inflasi ini menunjukkan adanya potensi kenaikan suku bunga acuan kembali di masa mendatang apabila situasi inflasi belum sepenuhnya terkendali. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi pasar keuangan di seluruh dunia.

Baca Juga

Klarifikasi Garuda Indonesia Terkait Rencana Konsolidasi dengan Pelita Air

Klarifikasi Garuda Indonesia Terkait Rencana Konsolidasi dengan Pelita Air

Dalam analisisnya, Destry Damayanti mengungkapkan bahwa dari pernyataan yang dibacakan oleh Chairman The Fed, terasa sangat jelas bahwa otoritas moneter Amerika Serikat tersebut masih bersikap hawkish terhadap kondisi perekonomian. Mereka dinilai masih sangat peduli dan menaruh perhatian besar terhadap situasi ekonomi yang terus menunjukkan tren peningkatan. Sikap hawkish ini mengonfirmasi bahwa siklus pengetatan moneter di Amerika Serikat belum sepenuhnya berakhir, sehingga memicu dinamika baru di pasar keuangan global yang harus segera diantisipasi oleh negara-negara lain.

Menurut Destry, tren kenaikan dan tingginya suku bunga acuan global ini mau tidak mau akan memberikan tekanan langsung terhadap pasar keuangan internasional. Salah satu dampak yang paling nyata adalah munculnya tekanan terhadap imbal hasil atau yield obligasi dan surat berharga di berbagai belahan dunia. Tekanan pada imbal hasil surat berharga ini diproyeksikan akan terjadi secara meluas, tidak terkecuali mempengaruhi pasar surat berharga di Indonesia. Destry menegaskan bahwa respons kebijakan moneter dari Bank Indonesia akan diarahkan untuk mengimbangi tekanan yang bersumber dari tingginya suku bunga, imbal hasil obligasi, serta inflasi global tersebut.

Baca Juga

Nilai Tukar Rupiah Menguat ke Rp18.055 per Dolar AS pada Jumat Pagi

Nilai Tukar Rupiah Menguat ke Rp18.055 per Dolar AS pada Jumat Pagi

Situasi "higher for longer" yang dihadapi dunia saat ini dipastikan akan memberikan dampak yang berantai bagi negara-negara lain, khususnya pada kelompok negara dengan pasar berkembang atau emerging markets. Secara lebih spesial, dampak dari kebijakan global ini akan sangat dirasakan oleh Indonesia. Sebagai bagian dari emerging market, Destry menekankan bahwa situasi suku bunga tinggi yang bertahan lama ini akan mempengaruhi arah perekonomian nasional. Kondisi eksternal tersebut juga akan menjadi faktor penentu utama dalam perumusan kebijakan strategis yang akan diambil ke depan, baik oleh Bank Indonesia selaku otoritas moneter maupun oleh pemerintah.

Ikuti Berita Viral Terkini

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

suku bungaekonomi globalinflasiBank IndonesiaDestry DamayantiThe Fed

Berita Terbaru Lainnya

Klarifikasi Garuda Indonesia Terkait Rencana Konsolidasi dengan Pelita AirNilai Tukar Rupiah Menguat ke Rp18.055 per Dolar AS pada Jumat PagiHarga Emas Antam Naik ke Rp2,623 Juta per Gram pada Jumat (31/7)Harga Emas Antam Naik Lagi, Sentuh Rp 2.623.000 per GramPetani Pulau Meti Andalkan Pengolahan Kopra sebagai Penopang Utama Ekonomi KeluargaStrategi Bank Indonesia Jaga Stabilitas Ekonomi di Tengah Era Suku Bunga Tinggi GlobalPemangkasan DBH Jakarta Capai Rp15 Triliun, HNW Sebut Pramono Anung Miliki Jalur Tol ke DPROegroseno Jelaskan Proses Hibah dan Pengadaan Lahan Sepolwan ke Kortas Tipidkor Polri

Paling Banyak Dibaca

Investigasi Keselamatan Boeing Mengungkap Celah Kualitas Produksi Pesawat

Ekonomi

Investigasi Keselamatan Boeing Mengungkap Celah Kualitas Produksi Pesawat

25 Jul 2026

Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPK

Hukum

Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPK

25 Jul 2026

Caitlin Clark Menulis Ulang Sejarah dan Mengubah Wajah WNBA

Olahraga

Caitlin Clark Menulis Ulang Sejarah dan Mengubah Wajah WNBA

25 Jul 2026

Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025

Teknologi

Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025

25 Jul 2026

Mengatasi Ancaman Downtime Sektor Manufaktur dengan Solusi Hybrid Cloud

Teknologi

Mengatasi Ancaman Downtime Sektor Manufaktur dengan Solusi Hybrid Cloud

25 Jul 2026

Politisi Senior Gerindra dr Sumarjati Arjoso Meninggal Dunia

Politik

Politisi Senior Gerindra dr Sumarjati Arjoso Meninggal Dunia

25 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Investigasi Keselamatan Boeing Mengungkap Celah Kualitas Produksi PesawatEkonomi 路 25 Jul 2026
  2. 2Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPKHukum 路 25 Jul 2026
  3. 3Caitlin Clark Menulis Ulang Sejarah dan Mengubah Wajah WNBAOlahraga 路 25 Jul 2026
  4. 4Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025Teknologi 路 25 Jul 2026
  5. 5Mengatasi Ancaman Downtime Sektor Manufaktur dengan Solusi Hybrid CloudTeknologi 路 25 Jul 2026
Keuangan
Sains
Edukasi
Manajemen
Religi
Berita Nasional
Berita Daerah
Berita Budaya
Hukum & Kriminal
Berita
Ketenagakerjaan
Pertanian
Ekonomi dan Bisnis
Ekonomi & Bisnis

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap