Pasar komoditas energi global saat ini sedang berada dalam pusaran tekanan geopolitik yang sangat sengit. Meskipun sempat mengalami pengikisan tipis pada sesi perdagangan Jumat pagi, 24 Juli 2026, harga minyak mentah dunia terbukti masih cukup tangguh bertahan di tingkatan tertinggi. Terkoreksinya harga Brent dan West Texas Intermediate (WTI) tersebut dipandang sebagai jeda sesaat setelah pasar mencatatkan reli mingguan yang amat pesat. Para pelaku pasar komoditas tampaknya masih enggan melepaskan kecemasan mereka terhadap ancaman kelangkaan pasokan energi global.
Berdasarkan catatan transaksi data Refinitiv hingga pukul 09.15 WIB, minyak Brent merosot 0,44 persen menuju level US$100,25 per barel jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di angka US$100,69 per barel. Pada saat yang hampir bersamaan, minyak mentah acuan Amerika Serikat, WTI, juga ikut mengalami penyusutan sebesar 0,52 persen ke posisi US$91,71 per barel dari level US$92,19 per barel. Walau bergerak melemah secara harian, patokan harga Brent sukses menembus kembali batas psikologis di atas US$100 per barel untuk kali pertama sejak bulan Mei, dengan kenaikan mingguan mencapai sekitar 13,5 persen untuk Brent dan 10,9 persen untuk WTI.
Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Layanan Hukum demi Lindungi UMKM dan Musisi

Penyebab utama dari melonjaknya ketegangan harga ini tidak lepas dari rentannya jalur-jalur logistik energi terpenting di bumi. Eskalasi konflik semakin memanas menyusul pengakuan kelompok Houthi yang mendapat dukungan dari Iran mengenai serangan terhadap dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di wilayah perairan Laut Merah. Serangan mendadak ini langsung memicu kekhawatiran besar akan terganggunya lalu lintas di Selat Bab el-Mandeb, pintu perbatasan vital dari Laut Merah menuju Samudra Hindia yang menjadi koridor pengiriman minyak terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz. Situasi ini kian meruncing setelah Houthi menyerukan blokade laut terhadap Saudi yang tengah berupaya mengalihkan ekspor minyaknya melalui pipa akibat gangguan di Selat Hormuz. Kondisi ini membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan tegas bahwa Iran akan dimintai pertanggungjawaban penuh jika aksi penyerangan armada tanker terus berulang.
Beban pasokan minyak global tidak hanya berasal dari kawasan Timur Tengah, melainkan juga diperparah oleh krisis energi yang melanda Asia Tengah dan Eropa Timur. Kementerian Energi Kazakhstan telah mengonfirmasi bahwa sejumlah perusahaan minyak dan gas setempat terpaksa memangkas volume produksi mereka untuk sementara waktu. Keputusan ini diambil usai dugaan serangan pesawat nirawak Ukraina memaksa terminal ekspor utama Kazakhstan di pesisir Laut Hitam menghentikan operasionalnya. Terhentinya aktivitas pada Caspian Pipeline Consortium (CPC) ini berdampak signifikan mengingat pipa tersebut menyalurkan sekitar 2 persen dari seluruh pasokan minyak mentah harian dunia. Bahkan, salah satu ladang minyak berukuran raksasa di Kazakhstan dilaporkan terpaksa memotong tingkat produksinya hingga lebih dari separuh kapasitas normal.
Ketegangan Jalur Pelayaran Global Menjaga Harga Minyak di Dekat Level Seratus Dolar

Akumulasi ancaman keanggotaan pada jalur pelayaran Bab el-Mandeb, belum pulihnya stabilitas di Selat Hormuz, serta susutnya pasokan fisik dari Kazakhstan secara sekaligus telah memaksa para investor memperhitungkan kembali premi risiko geopolitik secara masif. Kombinasi faktor kerentanan distribusi di wilayah-wilayah strategis tersebut memperkuat dugaan bahwa pergerakan harga minyak mentah akan terus diwarnai volatilitas tinggi. Selama ketidakpastian keamanan pada urat nadi pengiriman energi dunia ini belum menemukan titik terang, harga minyak mentah diperkirakan bakal terus bertengger kokoh di zona atas.






