Berita Viral Terkini

Harga Minyak Mentah Dunia Turun di Tengah Harapan Damai AS dan Iran

Uria KilaPublished 25 Jul 2026 - 08.360 Reads
Bagikan WhatsAppX
Harga Minyak Mentah Dunia Turun di Tengah Harapan Damai AS dan Iran
Ilustrasi Ekonomi. Foto: Kumparan.
A-A+

Pasar minyak global saat ini layaknya pendulum yang berayun cepat antara kecemasan perang dan secercah harapan damai. Setelah sempat melambung tinggi hingga menembus angka psikologis USD 100 per barel akibat memanasnya konflik di Timur Tengah, harga minyak mentah akhirnya melandai. Penurunan hampir 4 persen pada penutupan hari Jumat (24/7) menjadi bukti betapa sensitifnya para pelaku pasar terhadap rumor diplomasi. Kabar mengenai upaya untuk menghidupkan kembali perundingan damai yang sempat mandek antara Amerika Serikat (AS) dan Iran langsung direspons sebagai angin segar yang meredakan ketegangan sesaat.

Meskipun terjadi koreksi pada akhir pekan, tren mingguan menunjukkan bahwa kekhawatiran pasokan belum sepenuhnya sirna. Kontrak berjangka minyak Brent ditutup pada level USD 96,78 per barel, menyusut sebesar USD 3,91 atau sekitar 3,88 persen. Padahal, pada sesi perdagangan sebelumnya, Brent sempat bertengger di atas USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei lalu. Secara akumulatif, Brent masih mencatatkan lonjakan harga hampir 10 persen dalam sepekan. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 3,12 persen ke posisi USD 89,31 per barel, namun tetap mengantongi potensi kenaikan mingguan sebesar 8,27 persen.

Also Read

Harga Emas Antam Mulai Merangkak Naik Setelah Sempat Anjlok Tajam

Ketegangan yang sempat melambungkan harga komoditas ini dipicu oleh eskalasi militer yang nyata. Saling serang rudal antara AS dan Iran, penurunan drastis lalu lintas kapal di Selat Hormuz, serta aksi kelompok Houthi Yaman di Laut Merah menjadi bahan bakar utama kenaikan harga. Situasi kian memanas setelah Presiden AS Donald Trump menjanjikan tindakan militer keras terhadap Iran dan Houthi sebagai respons atas serangan terhadap dua kapal tanker Arab Saudi. Ancaman blokade laut oleh Houthi terhadap Saudi, ditambah desakan Iran untuk menutup jalur Bab el-Mandeb jika infrastruktur mereka diserang, kian memperumit rantai pasok energi dunia.

Dinamika ini memperlihatkan betapa rapuhnya fondasi pasar energi saat ini. John Kilduff dari Again Capital menilai bahwa para pelaku pasar sangat menghindari ketidakpastian jangka panjang. Begitu ada sinyal sekecil apa pun mengenai potensi resolusi konflik, pasar akan langsung menyambutnya dengan antusias karena tidak ada yang menginginkan situasi memburuk tanpa ujung. Senada dengan hal itu, Phil Flynn dari Price Futures Group mengingatkan bahwa persediaan minyak global yang masih ketat membuat pasar sangat rentan terhadap perubahan situasi yang mendadak.

Also Read

Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Layanan Hukum demi Lindungi UMKM dan Musisi

Jika konflik ini terus berlarut-larut tanpa solusi diplomatik yang konkret, dampaknya terhadap perekonomian global bisa sangat signifikan. Analisis dari JPMorgan memproyeksikan bahwa setiap gangguan pasokan minyak yang berlangsung selama satu bulan akan menambah beban harga Brent sebesar USD 7 hingga USD 8 per barel. Lebih mengkhawatirkan lagi, apabila hambatan distribusi ini berlanjut hingga tiga bulan, harga rata-rata Brent diperkirakan bisa meroket hingga menyentuh USD 114 per barel. Angka-angka ini menjadi pengingat bahwa di balik fluktuasi harian, ancaman krisis energi yang lebih besar masih mengintai di balik dinamika geopolitik Selat Hormuz dan Laut Merah.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca