Berita Viral Terkini

Huma Betang Baru di Palangka Raya Menjadi Simbol Persatuan Dayak

Togar SiregarPublished 25 Jul 2026 - 23.550 Reads
Bagikan WhatsAppX
Huma Betang Baru di Palangka Raya Menjadi Simbol Persatuan Dayak
Foto/Ilustrasi: cnnindonesia.com.
A-A+

Di tengah modernisasi yang bergerak cepat, Kalimantan Tengah memilih untuk menoleh kembali pada akar leluhurnya melalui sebuah proyek monumental. Langkah nyata ini ditandai dengan pemancangan tiang pertama pembangunan Huma Betang di kawasan eks Kantor Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, Palangka Raya, pada Kamis (23/7). Dipimpin langsung oleh Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik biasa, melainkan sebuah ikhtiar besar untuk menghidupkan kembali filosofi hidup masyarakat Dayak yang sarat akan nilai kebersamaan.

Menariknya, mahakarya arsitektur tradisional ini dirancang untuk berdiri kokoh melintasi zaman dengan memanfaatkan material lokal terbaik. Sekitar 90 persen dari struktur bangunan Huma Betang akan menggunakan kayu ulin, jenis kayu khas Kalimantan yang terkenal dengan kekuatannya yang legendaris terhadap cuaca ekstrem dan serangan rayap. Dengan mengusung konsep rumah panggung yang menjadi ciri khas hunian adat Kalimantan Tengah, bangunan ini akan berdiri di atas lahan seluas 80 x 170 meter. Keberadaan kayu ulin ini tidak hanya menjamin ketahanan fisik bangunan, tetapi juga menyimbolkan ketangguhan masyarakat Dayak dalam menjaga warisan leluhur mereka.

Also Read

KPK Mulai Supervisi Kasus Dugaan Korupsi Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah

Meskipun kental dengan nuansa tradisional, Huma Betang baru ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan modern berskala besar. Bangunan ini diproyeksikan mampu menampung lebih dari 10 ribu orang sekaligus. Di dalamnya, pengunjung tidak hanya disuguhi kemegahan struktur kayu, tetapi juga berbagai fasilitas edukatif dan akomodatif. Pemerintah daerah telah menyiapkan ruang untuk museum, galeri seni, mess kontingen, serta berbagai sarana penunjang lainnya. Kombinasi ini diharapkan dapat menjadikan Huma Betang sebagai pusat aktivitas kebudayaan yang dinamis, bukan sekadar monumen mati yang sepi pengunjung.

Bagi Gubernur Agustiar Sabran, Huma Betang membawa misi spiritual dan sosial yang mendalam bagi seluruh elemen masyarakat. Ia menegaskan bahwa rumah adat ini harus menjadi simbol persatuan di tengah keberagaman. Menurutnya, pembangunan Huma Betang merupakan upaya memperkuat identitas budaya Dayak sekaligus melestarikan nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Tengah. Lebih lanjut, ia berharap bangunan ini dapat menjadi wadah pemersatu yang merangkul semua golongan, menjadi rumah besar bagi seluruh masyarakat, serta tempat bertemunya budaya, persatuan, dan semangat membangun daerah.

Also Read

MUI Tegaskan Penolakan Terhadap LGBTQ dalam Kongres Umat Islam Indonesia

Proyek ambisius ini akan dikerjakan secara bertahap dengan target penyelesaian secara menyeluruh pada tahun 2027 mendatang. Pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk mengawal proses pembangunan ini agar berjalan dengan transparansi tinggi. Agustiar menaruh harapan besar agar pembangunan fisik ini dapat selesai tepat waktu, tepat mutu, dan akuntabel. Dengan segala keunikan arsitektur dan nilai filosofis yang diusungnya, Huma Betang diproyeksikan tidak hanya menjadi ikon baru bagi Kalimantan Tengah, melainkan juga simbol kebudayaan Indonesia yang mampu menarik perhatian di kancah nasional maupun internasional.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca