Berita Viral Terkini

IHSG Anjlok Mendekati Dua Persen Akibat Tekanan Saham Perbankan dan Sentimen Global

Rimba NainggolanPublished 26 Jul 2026 - 02.450 Reads
Bagikan WhatsAppX
IHSG Anjlok Mendekati Dua Persen Akibat Tekanan Saham Perbankan dan Sentimen Global
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Pasar keuangan Indonesia mendadak diselimuti ketidakpastian mendalam saat perdagangan bursa dibuka pada Jumat pagi, 24 Juli 2026. Tekanan hebat langsung menghantam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga indeks acuan nasional tersebut merosot tajam mendekati kisaran dua persen. Pelemahan signifikan ini memaksa IHSG kembali terlempar ke zona 6.100, mencerminkan besarnya kepanikan investor yang secara serentak melepaskan portofolio saham berkapitalisasi besar.

Papan pencatatan bursa mencatat bahwa pada pukul 09.26 WIB, IHSG telah ambrol sebesar 125,92 poin atau setara 1,99 persen menuju posisi 6.189,39. Kepungan aksi jual yang masif membuat pergerakan harga saham sangat tidak berimbang, di mana sebanyak 556 saham tercatat merosot, sedangkan 99 saham mampu menguat dan 310 saham sisanya tidak mengalami perubahan harga. Dalam rentang waktu singkat di awal sesi tersebut, nilai transaksi sudah menembus angka Rp4,37 triliun dengan melibatkan 9,79 miliar lembar saham dalam 608,2 ribu kali frekuensi perdagangan.

Keterpurukan indeks domestik ini paling kencang dipicu oleh pelepasan saham-saham unggulan, terutama di sektor perbankan yang selama ini menjadi tulang punggung bursa. Tekanan jual dari pemodal asing belum menunjukkan tanda-tanda mereda sejak hari sebelumnya. Pada sesi perdagangan Kamis, 23 Juli 2026, investor mancanegara mencatatkan aksi jual bersih atau net foreign sell senilai Rp920,3 miliar di pasar reguler. Saham-saham bank raksasa seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi sasaran utama lepas muatan asing yang berlanjut hingga akhir pekan.

Also Read

Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Layanan Hukum demi Lindungi UMKM dan Musisi

Langkah mundur para pelaku pasar di bursa saham lokal tidak terlepas dari hantaman badai sentimen negatif dari ranah internasional. Keputusan tegas Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang merilis kebijakan tarif impor anyar memicu gelombang kekhawatiran baru atas prospek pertumbuhan perdagangan global. Kebijakan proteksionisme tersebut menetapkan bea masuk sebesar 10 persen hingga 12,5 persen terhadap 60 negara mitra dagang AS, di mana Indonesia turut masuk dalam daftar sasaran regulasi baru tersebut.

Situasi eksternal kian memburuk seiring meningkatnya eskalasi konflik ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Gejolak keamanan di wilayah kaya energi tersebut mendorong harga minyak mentah jenis Brent melonjak tajam menembus level US$100,69 per barel, yang menjadi catatan harga tertinggi dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Lonjakan harga komoditas energi dunia ini berpotensi membakar kembali inflasi global, yang pada akhirnya dapat memaksa bank-bank sentral dunia mempertahankan rezim suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Also Read

Ketegangan Jalur Pelayaran Global Menjaga Harga Minyak di Dekat Level Seratus Dolar

Perpaduan antara ancaman perang dagang, potensi krisis energi, serta aksi pelepasan saham perbankan secara berturut-turut menciptakan atmosfer penolakan risiko yang kental di pasar modal. Investor memilih mengambil langkah aman dengan mengikis eksposur mereka pada instrumen berisiko tinggi. Kondisi serba tidak menguntungkan ini menempatkan IHSG sebagai salah satu indeks saham di kawasan yang mengalami koreksi paling dalam pada pembukaan perdagangan tersebut.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca