Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan kinerja yang positif pada penutupan perdagangan hari Kamis (30/7) sore. Indeks saham acuan nasional tersebut secara meyakinkan berakhir dan menetap di level 6.186. Pencapaian pada sore hari ini menunjukkan adanya dorongan penguatan yang cukup signifikan dari para pelaku pasar sepanjang jalannya sesi perdagangan. Kenaikan tingkat indeks ini juga menjadi sebuah catatan penting di tengah berbagai pergerakan bursa saham global maupun regional yang menunjukkan tren yang sangat bervariasi pada hari yang sama.
Jika dilihat dari angka pergerakannya, indeks saham berhasil mengumpulkan tambahan poin yang terbilang cukup besar. Indeks saham tercatat menguat sebanyak 94,97 poin apabila dibandingkan dengan posisi pada saat penutupan perdagangan sebelumnya. Tambahan poin tersebut secara persentase setara dengan tingkat kenaikan sebesar 1,56 persen. Angka pertumbuhan ini mengonfirmasi bahwa laju pergerakan indeks mampu menjaga konsistensinya untuk terus bertahan di zona hijau sejak awal hingga berakhirnya seluruh aktivitas transaksi pada hari Kamis sore.
Tingginya antusiasme dari para investor juga tercermin secara langsung pada data transaksi yang berlangsung sepanjang hari. Mengutip laporan dari data RTI Infokom, akumulasi nilai transaksi yang dilakukan oleh para investor di pasar saham mencapai angka yang sangat besar, yakni sebesar Rp12,68 triliun. Nilai transaksi belasan triliun rupiah tersebut diiringi oleh perputaran volume saham yang sangat masif. Secara keseluruhan, jumlah saham yang diperdagangkan dan berpindah tangan antar investor pada sesi kali ini tercatat menyentuh angka 26,81 miliar saham.
Harga Emas Antam Turun Jadi Rp 2.592.000 per Gram pada 15 September 2026

Sejalan dengan lonjakan poin dan nilai transaksi tersebut, rincian pergerakan harga saham pada penutupan kali ini juga didominasi oleh deretan saham yang mengalami apresiasi. Tercatat ada sebanyak 495 saham yang bergerak menguat dan berhasil menopang laju positif indeks secara keseluruhan. Di sisi lain, tekanan jual masih terlihat pada sebagian kecil saham, di mana terdapat 158 saham yang harus rela terkoreksi. Sementara itu, untuk saham yang pergerakannya cenderung stagnan atau tidak mengalami perubahan harga sama sekali dari perdagangan sebelumnya berjumlah sebanyak 136 saham.
Menariknya, tren penguatan yang terjadi pada perdagangan hari Kamis (30/7) sore ini didukung secara penuh oleh seluruh sektor industri penyusun indeks. Terpantau di layar perdagangan, kesebelas sektor indeks secara kompak bergerak menguat tanpa ada satu pun yang tertinggal di zona pelemahan. Dari seluruh jajaran sektor yang menghijau tersebut, laju kenaikan paling tinggi dipimpin secara langsung oleh sektor barang konsumen primer. Sektor yang berkaitan erat dengan kebutuhan pokok masyarakat ini melesat paling tajam dengan persentase kenaikan yang mencapai angka 1,87 persen.
Beralih ke pantauan pergerakan pasar saham asing, bursa saham di kawasan Asia terpantau bergerak dengan arah yang bervariasi pada periode waktu yang sama. Beberapa indeks utama di benua kuning ini berhasil mencatatkan rapor hijau, sementara yang lainnya justru harus tertekan. Tercatat, indeks Nikkei 225 di Jepang sukses menguat sebesar 0,71 persen, yang kemudian disusul oleh indeks Hang Seng Composite di Hong Kong dengan catatan plus sebesar 0,20 persen. Namun, nasib berbeda dialami oleh indeks Shanghai Composite di China dan indeks Straits Times di Singapura yang masing-masing harus menerima kenyataan melemah sebesar 0,08 persen.
Harga Emas Antam Turun Rp10 Ribu Jadi Rp2,592 Juta per Gram

Senada dengan dinamika yang terjadi di kawasan Asia, bursa saham Eropa pun terpantau bergerak bervariasi tanpa adanya tren tunggal yang mendominasi. Tarik-menarik antara sentimen positif dan negatif membuat indeks utama di benua biru ini terbelah. Di satu sisi, indeks DAX di Jerman tidak mampu mempertahankan posisinya dan harus melemah tipis sebesar 0,06 persen. Akan tetapi, di sisi lain, indeks FTSE 100 di Inggris justru berhasil melenggang di zona positif dengan mencatatkan pertumbuhan alias plus sebesar 0,50 persen hingga waktu penutupan.
Di sisi lain, pergerakan yang berlawanan arah dengan pasar domestik justru dipertontonkan oleh bursa Amerika. Bursa saham di kawasan tersebut terpantau kompak melemah secara keseluruhan. Indeks Dow Jones memimpin kejatuhan dengan tingkat penurunan yang paling dalam, yakni melemah hingga 2,19 persen. Pelemahan yang cukup signifikan tersebut juga diikuti oleh indeks S&P 500 yang harus ditutup minus sebesar 1,52 persen. Melengkapi tren pelemahan di bursa Amerika, indeks NASDAQ Composite juga tidak luput dari tekanan jual dan harus rela turun sebesar 1,74 persen.






