Berita Viral Terkini

IHSG Terpuruk Akibat Tekanan Sentimen Tarif Trump dan Kenaikan Harga Minyak

Ding Anyi ApuiPublished 25 Jul 2026 - 09.350 Reads
Bagikan WhatsAppX
IHSG Terpuruk Akibat Tekanan Sentimen Tarif Trump dan Kenaikan Harga Minyak
Ilustrasi Ekonomi. Foto: CNBC Indonesia - Market.
A-A+

Pasar modal Indonesia harus menghadapi hari yang berat pada akhir pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat akibat kombinasi sentimen negatif global yang datang secara bertubi-tubi. Pada perdagangan hari Jumat, 24 Juli 2026, indeks ditutup melemah signifikan hingga nyaris 2 persen pada akhir sesi pertama. Aksi jual massal yang melanda saham-saham berkapitalisasi besar menjadi motor utama kejatuhan ini, seiring dengan kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketidakpastian ekonomi dunia yang kembali meningkat.

Hingga jeda siang, IHSG tercatat merosot 117 poin atau setara dengan 1,88 persen, yang menyeret indeks parkir di level 6.196,43. Koreksi tajam ini tergambar jelas dari peta pergerakan saham, di mana 587 saham terperosok ke zona merah, sementara hanya 104 saham yang mampu menguat dan 105 saham lainnya jalan di tempat. Aktivitas perdagangan pun berlangsung sangat padat dengan nilai transaksi menembus Rp17,71 triliun. Volume perdagangan mencapai 37,84 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 2,25 juta kali, menandakan betapa masifnya tekanan jual yang terjadi sejak pasar dibuka.

Kepanikan pasar ini diperparah oleh langkah investor asing yang berbondong-bondong menarik modalnya dari bursa domestik. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, investor asing membukukan penjualan bersih (net foreign sell) senilai Rp759,46 miliar di seluruh pasar sepanjang sesi pertama. Total transaksi investor asing sendiri mencapai Rp6,54 triliun, yang terdiri dari pembelian sebesar Rp2,89 triliun dan penjualan yang jauh lebih besar mencapai Rp3,65 triliun. Sektor perbankan pelat merah menjadi korban utama dari aksi lego ini. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatat pelepasan asing terbesar dengan nilai Rp386,06 miilar.

Also Read

Harga Emas Antam Mulai Merangkak Naik Setelah Sempat Anjlok Tajam

Tidak hanya sektor perbankan, saham-saham dari sektor komoditas dan infrastruktur juga tidak luput dari tekanan jual asing. PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dilepas asing sebesar Rp142,89 miliar, disusul oleh PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) senilai Rp123,37 miliar. Beberapa emiten besar lainnya yang turut dilego asing meliputi PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) sebesar Rp113,07 miliar, PT Petrosea Tbk. (PTRO) Rp55,68 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) Rp43,90 miliar, dan PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) sebesar Rp43,49 miliar. Pelepasan aset juga menimpa PT Timah Tbk. (TINS) senilai Rp30,17 miliar, PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) Rp26,34 miliar, serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) sebesar Rp25,73 miliar. Secara sektoral, pelemahan ini bersifat menyeluruh dengan saham-saham seperti BMRI, AMMN, BREN, BRPT, BRMS, dan BUMI tampil sebagai beban terberat bagi indeks.

Sentimen eksternal yang memicu kepanikan ini berasal dari dua arah. Pertama, kebijakan proteksionisme Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang resmi memberlakukan tarif impor baru antara 10 persen hingga 12,5 persen bagi 60 negara mitra dagang, termasuk Indonesia. Kebijakan ini langsung memicu kekhawatiran akan terjadinya perang dagang baru yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi global. Kedua, ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas telah melambungkan harga minyak mentah Brent hingga menyentuh US$100,69 per barel, level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Lonjakan harga energi ini menimbulkan kecemasan baru bahwa inflasi global akan kembali melonjak, sehingga memaksa bank-bank sentral dunia untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Also Read

Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Layanan Hukum demi Lindungi UMKM dan Musisi

Kombinasi antara ancaman tarif dagang AS dan lonjakan harga minyak dunia ini menciptakan ketidakpastian yang sangat tinggi di pasar keuangan. Menghadapi situasi yang kurang kondusif ini, para pelaku pasar lebih memilih untuk bermain aman dengan mengurangi porsi kepemilikan mereka pada aset-aset berisiko tinggi di negara berkembang. Alhasil, bursa saham Indonesia pun terpaksa menanggung konsekuensi dari pergeseran sentimen global tersebut, menjadikan IHSG sebagai salah satu indeks yang mengalami tekanan paling dalam di kawasan pada perdagangan hari ini.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca