Berita Viral Terkini

Indonesia Membuka Gerbang Ekspor Baru Melalui Sebelas Perjanjian Dagang

Wahyu SuryaniPublished 25 Jul 2026 - 07.510 Reads
Bagikan WhatsAppX
Indonesia Membuka Gerbang Ekspor Baru Melalui Sebelas Perjanjian Dagang
Ilustrasi Ekonomi. Foto: CNN Indonesia - Ekonomi.
A-A+

Dalam kancah perdagangan global yang dinamis, memiliki perjanjian dagang bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan mutlak untuk bertahan. Pemerintah Indonesia kini tengah gencar memperluas jangkauan pasarnya dengan merundingkan 11 perjanjian dagang baru. Langkah strategis ini diambil demi meruntuhkan berbagai hambatan tarif maupun non-tarif yang selama ini membatasi produk-produk dalam negeri untuk bersaing di panggung internasional.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan pentingnya langkah ini saat berbicara dalam acara The 9th Indonesia International Cocoa Conference di Yogyakarta. Saat ini, Indonesia sebenarnya telah mengoperasikan 25 perjanjian dagang aktif dengan berbagai negara mitra, ditambah dua perjanjian lain yang sedang menunggu proses ratifikasi untuk segera diimplementasikan. Namun, ekspansi tidak boleh berhenti di situ jika Indonesia ingin terus mengamankan posisi tawar ekonominya di pasar global.

Salah satu fokus utama dari 11 negosiasi baru ini adalah kesepakatan dengan Amerika Serikat melalui Agreement Reciprocal on Trade (ART). Menariknya, upaya mendekati pasar Negeri Paman Sam ini bukanlah perkara mudah dan instan. Proses diplomasi ini telah dirintis sejak tahun 1996 lewat Trade Investment and Framework Agreement (TIFA), namun kerap menemui jalan buntu selama hampir tiga dekade. Kebuntuan tersebut akhirnya pecah berkat langkah diplomasi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, yang berhasil membawa perundingan ART menuju titik terang.

Also Read

Gaya Hidup Baru Tanpa Dompet berkat Perluasan Fitur QRIS

Amerika Serikat sendiri memegang peranan krusial bagi perekonomian Indonesia karena statusnya sebagai pasar ekspor terbesar. Nilai ekspor Indonesia ke negara tersebut mencapai US$30,9 miliar atau setara dengan 11 persen dari total ekspor nasional, dengan surplus perdagangan mencapai US$18,11 miliar. Melalui kesepakatan ART yang baru, Indonesia akan mendapatkan perlakuan istimewa untuk 1.809 pos tarif, termasuk untuk komoditas penting seperti kakao. Tanpa adanya perjanjian ini, pangsa pasar yang sangat besar tersebut akan sangat rentan tergerus oleh kompetitor dari negara lain.

Pemerintah juga meluruskan kekhawatiran terkait dampak impor dari perjanjian timbal balik ini. Kerja sama perdagangan harus menguntungkan kedua belah pihak. Dalam konteks dengan Amerika Serikat, Indonesia memang mengimpor beberapa komoditas seperti gandum dan kedelai. Namun, penurunan tarif impor hingga nol persen untuk bahan baku ini justru dinilai menguntungkan industri dalam negeri karena dapat menekan biaya produksi dan membuat harga pangan domestik menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat.

Also Read

Harga Emas Antam Mulai Merangkak Naik Setelah Sempat Anjlok Tajam

Selain berfokus pada Amerika Serikat, Indonesia juga bersiap merampungkan kemitraan besar lainnya, yaitu Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dengan 27 negara anggota Uni Eropa. Proses negosiasi substansial untuk IEU-CEPA dilaporkan telah selesai secara prinsip. Pemerintah menargetkan penandatanganan resmi dokumen kerja sama ini dapat terlaksana pada September mendatang, sehingga implementasi penuhnya bisa dimulai pada Januari tahun depan demi memperluas akses pasar di benua biru.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca