PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk terus memacu pengembangan bisnis infrastruktur digital dan konektivitas untuk menopang pertumbuhan kinerja jangka panjang. Langkah ini dijalankan seiring penerapan strategi transformasi TLKM 30 serta restrukturisasi bisnis ke dalam lima pilar segmen utama.
Dalam laporan kinerja paruh pertama 2026, Telkom mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp75,9 triliun, tumbuh 3,9 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Pada periode yang sama, EBITDA perseroan naik 3,8 persen YoY menjadi Rp37,5 triliun dengan margin sebesar 49,4 persen, dan laba bersih tercatat sebesar Rp10,6 triliun atau naik 1,4 persen YoY. Secara ternormalisasi, laba bersih emiten telekomunikasi ini mencapai Rp11,3 triliun, meningkat 6,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada kuartal II 2026, margin EBITDA perseroan juga telah kembali melampaui level 50 persen.
Fokus Alokasi Belanja Modal dan Restrukturisasi
Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan, Telkom mengarahkan lebih dari 94 persen belanja modal (CAPEX) ke bisnis inti pada segmen B2C dan B2B Infrastructure. Transformasi grup dijalankan berlandaskan empat pilar strategis TLKM 30, yaitu operational and service excellence, streamlining, unlocking value, serta modus-operandi shift.
IHSG Koreksi 0,14% di Sesi 1, Tekanan Jual Dominan

Melalui langkah delayering, perseroan membagi fokus operasional ke dalam lima segmen: B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, International, serta Others and Ancillary. Pada segmen infrastruktur B2B, Telkom tengah menyiapkan penyelesaian spin-off tahap dua untuk InfraNexia yang ditargetkan rampung pada kuartal III 2026. Entitas ini disiapkan sebagai pengelola utama bisnis wholesale connectivity TelkomGroup.
Di lini pusat data, NeutraDC membukukan pendapatan sebesar Rp867 miliar pada Semester I 2026, atau tumbuh 11 persen YoY, dengan total kapasitas efektif mencapai 49,9 MW. Kinerja tersebut didukung tingkat keterisian (okupansi) Hyperscale Data Center (HDC) Cikarang yang menyentuh 96 persen. NeutraDC juga menargetkan fasilitas HDC Batam mulai beroperasi pada Semester II 2026 dengan kapasitas tahap awal sebesar 6 MW.
Kinerja Segmen B2B ICT dan B2C
Ekspansi pada segmen solusi korporasi dan UKM turut mencatat kenaikan. Pendapatan dari sektor SME tumbuh 11,5 persen, diiringi peningkatan jumlah pelanggan IndiBiz sebesar 11,7 persen menjadi 756 ribu pelanggan. Di sektor B2B ICT, Telkom berencana mengambil alih 100 persen saham Digiserve untuk memperkuat kapabilitas layanan korporasi.
Singapura Kalah, Ramai Orang Kaya China Kini Pindahkan Duit ke Sini

Sementara itu pada pilar B2C, anak usaha Telkomsel mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 5,3 persen YoY menjadi Rp28,0 triliun. EBITDA Telkomsel meningkat 10,3 persen dan laba bersihnya melonjak 24,9 persen YoY. Rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) seluler naik 11,6 persen YoY menjadi Rp46 ribu. Penguatan jaringan juga dilakukan lewat penambahan spektrum 100 MHz di frekuensi 700 MHz dan 2.600 MHz, sehingga total portofolio spektrum Telkomsel mencapai 265 MHz.
Dengan capaian sepanjang paruh pertama tahun ini, manajemen Telkom tetap mempertahankan panduan kinerja tahun 2026, dengan target pertumbuhan pendapatan ternormalisasi berkisar 1 hingga 3 persen serta margin EBITDA di atas 50 persen.






