Berita Viral Terkini

Ketegangan Jalur Pelayaran Global Menjaga Harga Minyak di Dekat Level Seratus Dolar

Rimba NainggolanPublished 26 Jul 2026 - 13.210 Reads
Bagikan WhatsAppX
Ketegangan Jalur Pelayaran Global Menjaga Harga Minyak di Dekat Level Seratus Dolar
Foto/Ilustrasi: cnnindonesia.com.
A-A+

Pasar minyak mentah global saat ini sedang menghadapi tekanan besar akibat kerentanan jalur distribusi utama dunia. Meskipun terjadi koreksi tipis pada penutupan perdagangan hari Jumat, harga minyak mentah dunia tetap bertahan di dekat level psikologis US$100 per barel. Minyak mentah Brent mencatat penurunan sebesar 72 sen atau 0,72 persen menjadi US$99,97 per barel. Sementara itu, varian West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat melemah 70 sen atau 0,76 persen ke posisi US$91,49 per barel. Kendati demikian, koreksi harian ini tidak mampu menghapus tren positif mingguan yang sangat kuat. Sepanjang pekan ini, Brent masih berada di jalur kenaikan sebesar 13,5 persen, disusul WTI yang diperkirakan menguat sebesar 10,9 persen.

Ketahanan harga minyak di tingkat yang tinggi ini dipicu oleh kecemasan mendalam para pelaku pasar terhadap keamanan rantai pasok. Fokus utama tertuju pada Selat Bab el-Mandeb, sebuah jalur pelayaran vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia. Kekhawatiran memuncak setelah kelompok Houthi yang didukung oleh Iran melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di wilayah tersebut. Serangan ini memicu spekulasi bahwa jalur pelayaran strategis tersebut bisa ditutup sepenuhnya. Situasi ini menjadi sangat krusial karena Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu arteri distribusi minyak terpenting di dunia setelah Selat Hormuz.

Also Read

Harga Emas Antam Mulai Merangkak Naik Setelah Sempat Anjlok Tajam

Ketegangan di kawasan Timur Tengah ini juga melibatkan rivalitas geopolitik yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran. Hubungan kedua negara memburuk setelah gencatan senjata sementara berakhir secara prematur dua pekan lalu. Iran dikabarkan mendesak kelompok Houthi untuk menutup Selat Bab el-Mandeb jika militer Amerika Serikat menyerang infrastruktur energi mereka. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump langsung merespons dengan menegaskan bahwa Washington akan menuntut pertanggungjawaban penuh dari Iran apabila terjadi serangan lanjutan terhadap kapal-kapal yang melintasi kawasan tersebut. Sebelum insiden ini, Houthi bahkan telah menyatakan blokade laut terhadap Arab Saudi, yang sebelumnya mencoba mengalihkan ekspor minyaknya lewat jaringan pipa darat demi menghindari Selat Hormuz.

Kondisi geopolitik yang kian memanas ini membuat para analis pasar melihat adanya risiko sistemik terhadap distribusi energi global. Tony Sycamore, seorang analis pasar dari IG, mengungkapkan bahwa ancaman terhadap kelancaran pasokan minyak dunia kini berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Dalam catatannya, ia mengibaratkan situasi saat ini seperti jerat pada jalur pasokan energi global yang kembali mengencang. Para investor kini harus memperhitungkan premi risiko geopolitik yang lebih tinggi karena potensi hambatan fisik pada pengiriman minyak mentah semakin nyata.

Also Read

Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Layanan Hukum demi Lindungi UMKM dan Musisi

Masalah pasokan global ternyata tidak hanya bersumber dari Timur Tengah. Di belahan dunia lain, pasokan minyak mentah juga terganggu akibat konflik di Eropa Timur. Kementerian Energi Kazakhstan baru-baru ini mengumumkan pemotongan produksi minyak secara sementara dari perusahaan-perusahaan di negaranya. Langkah darurat ini terpaksa diambil setelah rute ekspor utama mereka di Laut Hitam terganggu. Sebuah terminal ekspor penting di kawasan tersebut terpaksa ditutup akibat dugaan serangan pesawat tanpa orang dari Ukraina. Dengan terganggunya dua jalur logistik penting di Laut Merah dan Laut Hitam secara bersamaan, pasar minyak dunia diperkirakan akan tetap berada dalam kondisi ketat, menjaga harga tetap tinggi dalam waktu dekat.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca