Pengalaman pahit seorang pasien peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bernama Yurizal memicu keprihatinan publik. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, Yurizal sempat membagikan pengalaman menunggu hingga delapan jam untuk mendapatkan kamar rawat inap. Alih-alih memperoleh simpati, curahan hati pasien tersebut justru direspons secara tidak berempati di media sosial oleh sejumlah akun yang diduga milik tenaga medis dan kesehatan.
Gelombang tanggapan negatif di platform digital tersebut memicu sorotan tajam warganet. Akun @erudarahaadini, yang belakangan diketahui milik Elda Putri Rahardini, menuliskan komentar yang menyebut pasien seolah tidak memiliki sel otak yang lengkap karena mengeluh di media sosial. Sementara itu, akun @bennychrstn milik Benny Christian Sihombing鈥攜ang diduga warganet merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia鈥攎enyebutkan bahwa jika ruang perawatan penuh, opsi pindah dengan cepat hanyalah menuju ruang jenazah. Komentar lain datang dari akun @1amdika yang menyebut penanganan akan lebih cepat jika pasien mengalami serangan jantung sehingga langsung ditangani di instalasi gawat darurat (IGD), serta akun @nandafadyla_ yang melontarkan komentar singkat, "Bacot nih pasien."








