Ambisi Tiongkok untuk mengamankan pasokan tembaga global kini menghadapi ujian berat di wilayah tandus Balochistan, Pakistan. Jalur logistik yang menyokong Tambang Saindak, satu-satunya tambang tembaga operasional milik Tiongkok di negara tersebut, kini berada dalam kepungan aksi militan. Serangkaian serangan sistematis dalam beberapa bulan terakhir tidak hanya mengancam kelancaran pasokan komoditas vital ini, tetapi juga telah merenggut belasan nyawa dan mengganggu kestabilan operasional salah satu investasi tambang terbesar di Pakistan.
Berdasarkan laporan tengah tahun 2026, Provinsi Balochistan di barat daya Pakistan menyaksikan sedikitnya tujuh serangan bersenjata dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Kelompok militan secara agresif menargetkan infrastruktur vital, mulai dari jalan raya utama, konvoi pengangkut mineral, hingga kendaraan logistik. Eskalasi kekerasan ini telah menelan sedikitnya 13 korban jiwa, menghancurkan puluhan kendaraan, dan sempat melumpuhkan Jalan Raya N-40 Quetta-Taftan yang menjadi urat nadi penghubung area tambang dengan perbatasan Iran.
Dampak dari blokade informal ini mulai dirasakan langsung di area operasional Tambang Saindak yang terletak di Distrik Chagai, sebuah wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan Iran dan Afghanistan. Pasokan bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik di kawasan tambang dikabarkan mulai menipis akibat truk-truk pengangkut logistik yang tidak bisa mencapai lokasi. Meskipun proyek ini dimiliki oleh badan usaha milik negara Pakistan, Saindak Metals Limited, operasionalnya sepenuhnya dijalankan oleh perusahaan asal Tiongkok, MCC Resources Development, sejak tahun 2002 dengan kontrak yang telah diperpanjang hingga 15 tahun ke depan pada 2022 lalu.
Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Layanan Hukum demi Lindungi UMKM dan Musisi

Bagi Beijing, gangguan di Saindak bukan sekadar masalah operasional lokal, melainkan ancaman langsung terhadap pasokan bahan baku industri mereka. Tembaga merupakan komoditas ekspor andalan Pakistan ke Tiongkok, dengan nilai transaksi mencapai hampir 1 miliar dolar AS atau sekitar 16,3 triliun rupiah pada tahun 2024. Angka tersebut menyumbang sekitar 35 persen dari total nilai impor Tiongkok dari Pakistan, termasuk di dalamnya pasokan sekitar 23.700 metrik ton tembaga murni yang diproduksi langsung dari tambang tersebut.
Pengamat keamanan menilai bahwa kelompok separatis di Balochistan kini menerapkan taktik blokade ekonomi yang terencana. Dengan menguasai dan mengacaukan jalur distribusi utama, mereka berusaha melumpuhkan aktivitas ekonomi yang melibatkan investasi asing. Meskipun manajemen Saindak Metals Limited menegaskan bahwa belum ada rencana penghentian produksi dan operasional masih berjalan, mereka tidak menampik bahwa tingginya risiko keamanan di sepanjang Jalan Raya N-40 sangat menghambat pergerakan truk logistik dan konvoi pengamanan.
Ketegangan Jalur Pelayaran Global Menjaga Harga Minyak di Dekat Level Seratus Dolar

Menanggapi situasi yang kian genting, pemerintah Pakistan bergerak cepat dengan meningkatkan pengamanan di sekitar proyek-proyek pertambangan vital tersebut. Kementerian Dalam Negeri Pakistan menyatakan telah menerima keluhan dari pihak pengelola tambang dan segera mengerahkan personel tambahan untuk mengamankan fasilitas, melindungi para pekerja, serta mengawal pengiriman logistik agar rantai pasok tembaga ke Tiongkok tidak terputus sepenuhnya.






