Pertumbuhan minat masyarakat terhadap pasar modal Indonesia terus menunjukkan ekspansi yang pesat. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor di pasar modal telah mencapai 30,30 juta Single Investor Identification (SID) per 7 Agustus 2026. Angka tersebut mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 9,9 juta investor jika dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun 2025.
Antusiasme partisipasi investor ini beriringan dengan dinamika pergerakan pasar saham domestik. Sepanjang periode perdagangan 18–21 Agustus 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sebesar 1,93 persen menuju level 6.525,69. Kenaikan indeks tersebut diiringi lonjakan rata-rata volume transaksi harian sebesar 47,90 persen yang mencapai 50,30 miliar saham. Pada saat yang sama, investor asing berbalik membukukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp548,6 miliar, setelah pada pekan sebelumnya mencatatkan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp1,58 triliun.
Kendati pasar modal tengah menunjukkan gairah transaksi dan pertumbuhan basis investor yang tinggi, para pelaku pasar pemula diimbau untuk tidak bertindak secara impulsif semata-mata karena tergiur oleh pergerakan tren pasar.
Menentukan Tujuan Finansial Sebelum Menentukan Instrumen
Langkah fundamental yang perlu diambil oleh investor pemula adalah memprioritaskan perumusan sasaran investasi sebelum melangkah pada pemilihan produk keuangan. Hal tersebut disampaikan oleh investor dan kreator Theo Derick dalam talkshow finansial bertajuk "From Zero to Portfolio: Membangun Kebiasaan Investasi di Tengah Ekonomi yang Menantang" yang diselenggarakan PT BNI Sekuritas dalam rangkaian acara BNI WondrX 2026 di ICE BSD, Tangerang, Sabtu (22/8/2026).
Genjot Produksi Emas Lewat Keterlibatan Tambang Rakyat untuk Pasokan Domestik

Theo Derick menekankan bahwa kejelasan tujuan investasi merupakan fondasi utama. Melewatkan tahapan perencanaan dan langsung memilih instrumen investasi berisiko menjebak pemula pada keputusan ikut-ikutan tren pasar yang berpotensi tidak sejalan dengan kondisi finansial pribadi.
Untuk membangun portofolio investasi secara terencana dan terhindar dari bias tren sesaat, berikut tahapan yang perlu diterapkan:
- Menetapkan sasaran dan jangka waktu investasi secara jelas sebelum mencari produk pasar modal.
- Menganalisis kondisi keuangan pribadi guna memastikan kemampuan alokasi dana secara rasional.
- Menghindari pembelian instrumen pasar modal yang semata-mata didasarkan pada popularitas atau tren sesaat.
- Menyesuaikan pemilihan instrumen investasi dengan tujuan finansial dan profil risiko yang dimiliki.
Meningkatkan Literasi Pasar Modal dan Mengantisipasi Dinamika Pasar
Pertambahan jutaan investor baru di pasar modal perlu dibarengi dengan pemahaman instrumen secara komprehensif. Head of Retail Brokerage BNI Sekuritas Rohma Fitri Murniawati menyatakan bahwa pesatnya pertumbuhan jumlah investor harus diimbangi dengan peningkatan literasi pasar modal agar keputusan finansial yang diambil didasarkan pada analisis yang tepat.
GEET Pulau Rengit Resmi Beroperasi, Dorong Aktivitas Ekonomi Berbasis Energi Hijau

Selain penguatan pemahaman dasar, investor pemula juga perlu mencermati dinamika teknikal dan pergerakan pasar. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari menjelaskan bahwa penguatan teknikal, peningkatan likuiditas, serta kembalinya arus dana asing telah menjadi katalis pendorong penguatan momentum IHSG.
Namun, Brigita turut mengingatkan bahwa ruang kenaikan IHSG dalam jangka pendek mulai terbatas menyusul reli penguatan yang telah terjadi. Oleh sebab itu, potensi terjadinya aksi ambil untung (profit taking) perlu diantisipasi oleh para investor dalam mengelola risiko portofolio secara bijak.






