Insiden terbaliknya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9) dini hari menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar terkait kelaikan armada pelayaran antarpulau di Indonesia. Kapal rute Surabaya鈥揃anjarmasin yang dilaporkan hilang kontak sekitar pukul 02.00 WITA tersebut mengangkut 243 orang serta 89 kendaraan. Hingga kini, tim pencarian mencatat 108 korban selamat, 6 korban meninggal dunia, dan 129 orang lainnya masih dalam pencarian.
Berdasarkan data teknis, KM Virgo Transport 8 merupakan kapal bekas asal Jepang berusia 39 tahun dengan nomor identifikasi IMO 8625179. Kapal sepanjang 119 meter dengan tonase 4.277 GT ini pertama kali diproduksi pada 1987 oleh Shin Kurushima Onishi Shipyard dengan nama Ferry Kurushima. Armada ini diakuisisi oleh PT Virgo Karya Shipping pada akhir 2025 dan baru mulai melayani rute Pelabuhan Tanjung Perak menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin pada Juli 2026.
Pakar Hidrodinamika dari Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Ir. I Ketut Aria Pria Utama, menilai desain operasional kapal tersebut pada dasarnya tidak cocok dengan karakteristik perairan terbuka di Indonesia. Sepanjang 1987 hingga pertengahan 2025, kapal ini hanya beroperasi di Laut Pedalaman Seto pada rute Kokura鈥揗atsuyama. Wilayah perairan tersebut berstatus laut tertutup yang dikelilingi Pulau Honshu, Shikoku, dan Kyushu dengan kedalaman rata-rata 38 meter, sehingga relatif tenang dan terlindung dari gelombang tinggi.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Laut Jawa. Meski sama-sama dangkal, Laut Jawa berkarakter laut lepas yang sangat terbuka terhadap angin monsun, arus kuat, dan gelombang berfluktuasi antara 1,5 hingga 2,5 meter.
Kementan Ungkap 25 Merek Tak Sesuai Klaim, Ini Daftar Lengkap Beras Fortifikasi Abal-abal

Modifikasi Desain dan Bahaya Efek Sloshing
Menurut Prof. Ketut, faktor usia kapal sebenarnya bukan kendala utama selama pemeliharaan berjalan dengan baik. Masalah mendasar terletak pada kesesuaian rancang bangun dan performa olah gerak kapal di laut atau seakeeping.
Kapal feri jenis roll-on/roll-off (Ro-Ro) dari negara empat musim umumnya memiliki lambung tertutup rapat guna menahan suhu dingin. Namun, saat dialihkan ke Indonesia, lambung kapal kerap dimodifikasi dengan penambahan bukaan samping demi menghemat penyejuk udara (AC) serta menekan beban pajak ruang tertutup (enclosed space).
Modifikasi tersebut membawa risiko besar apabila pintu rampa samping tidak kedap atau sistem pemompaan air tidak memadai. Air laut yang masuk dan terjebak di geladak kendaraan dapat memicu efek permukaan bebas (sloshing effect). Genangan air yang bergerak bebas ini seketika mengganggu stabilitas hingga menyebabkan kapal bergoyang secara tidak normal dan kehilangan keseimbangan.
25 Kecamatan di Kabupaten Tangerang Berstatus Awas Kekeringan, 62.076 Jiwa Terdampak

Risiko terbalik semakin tinggi jika muatan kendaraan di geladak tidak diikat dengan benar. Guncangan ombak dapat membuat kendaraan bergeser dan mengubah titik pusat massa kapal secara drastis.
Catatan Prosedur Keselamatan dan Investigasi KNKT
Selain persoalan teknis kapal, aspek keselamatan penumpang turut menjadi perhatian. Prof. Ketut menyoroti kebiasaan armada pelayaran domestik yang masih minim memberikan pengarahan keselamatan (safety induction) sebelum berlayar. Penumpang sering kali tidak mendapat pemahaman memadai mengenai lokasi evakuasi serta cara penggunaan jaket pelampung dalam situasi darurat.
Meskipun sejumlah analisis teknis mengindikasikan ketidaksesuaian desain kapal dengan medan pelayaran, kepastian penyebab utama kecelakaan KM Virgo Transport 8 tetap menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).






