Tudingan miring sering kali mewarnai langkah strategis pemerintah di sektor keuangan, tidak terkecuali dalam penerbitan instrumen utang luar negeri. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini menghadapi situasi tersebut ketika merilis surat utang berdenominasi yuan China atau Panda Bond. Purbaya mengungkapkan adanya pihak yang menuduh dirinya berbohong terkait peringkat AAA dengan prospek stabil (Stable) yang disematkan pada obligasi tersebut. Tuduhan ini tentu menjadi kontras yang menarik di tengah upaya pemerintah mendiversifikasi sumber pembiayaan negara.
Saat ditemui di Gedung Juanda, Jakarta, pada hari Jumat, 24 Juli 2026, Purbaya menanggapi rumor tersebut dengan santai namun tegas. Ia mengonfirmasi bahwa peringkat surat utang tersebut memang berada di level tertinggi alias "rata kanan". Meski demikian, ia tidak menampik adanya suara-suara sumbang yang meragukan pencapaian tersebut dan menyebut klaimnya sebagai kebohongan belaka. Namun, jawaban terbaik atas keraguan tersebut akhirnya datang langsung dari lantai pasar keuangan global yang menunjukkan hasil sebaliknya.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pasar justru menyambut hangat instrumen investasi dari Indonesia ini. Pemerintah berhasil menyelesaikan penerbitan Panda Bond perdana tersebut pada hari Kamis, 24 Juli 2026, dengan nilai emisi mencapai CNY 7 miliar. Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp18,58 triliun (menggunakan asumsi kurs Rp2.655 per yuan) atau berkisar US$1 miliar. Skala penerbitan yang besar ini menjadi bukti awal bahwa minat investor asing terhadap portofolio investasi Indonesia tetap kokoh.
Gaya Hidup Baru Tanpa Dompet berkat Perluasan Fitur QRIS

Keberhasilan ini semakin dipertegas oleh pernyataan Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto. Ia mengungkapkan bahwa permintaan yang masuk mengalami kelebihan pemesanan atau oversubscribed hingga 2,4 kali lipat. Dari target awal yang dicetak sebesar CNY 7 miliar, total buku pemesanan atau order book yang masuk dari para investor menembus angka CNY 17 miliar, atau setara dengan Rp45,23 triliun. Angka fantastis ini secara tidak langsung mematahkan segala keraguan yang sebelumnya dialamatkan kepada pemerintah.
Jika dibedah lebih rinci, penawaran ini terbagi ke dalam dua pilihan tenor investasi. Untuk tenor tiga tahun, pemerintah melepas CNY 5,6 miliar (sekitar Rp14,86 triliun) dengan yield yang ditetapkan sebesar 1,90 persen. Pilihan ini memicu permintaan hingga CNY 12,38 miliar (sekitar Rp32,86 triliun), mencatatkan bid-to-cover ratio sebesar 2,2 kali. Sementara itu, untuk tenor lima tahun, nilai yang diterbitkan adalah CNY 1,4 miliar (sekitar Rp3,59 triliun) dengan yield sebesar 2,19 persen. Permintaan untuk tenor yang lebih panjang ini mencapai CNY 4,62 miliar (sekitar Rp12,26 triliun) dengan bid-to-cover ratio yang lebih tinggi, yaitu 3,3 kali.
Harga Emas Antam Mulai Merangkak Naik Setelah Sempat Anjlok Tajam

Seluruh proses administrasi dan setelmen dari penerbitan perdana Panda Bond ini dijadwalkan akan rampung pada tanggal 30 Juli 2026. Hasil akhir dari transaksi ini menunjukkan bahwa kepercayaan pasar internasional tidak dapat digoyahkan oleh spekulasi domestik yang tidak berdasar. Pada akhirnya, angka-angka transaksi yang transparan dan minat investor yang melimpah menjadi pembuktian nyata atas kredibilitas pengelolaan keuangan negara di mata dunia.






