Kawasan pesisir Nusa Tenggara Timur kini tengah diarahkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui penataan sektor kelautan. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur mengambil langkah strategis dengan mengembangkan lima klaster budidaya rumput laut. Langkah ini dirancang untuk membangun ekosistem usaha yang terintegrasi penuh dari hulu hingga ke hilir, guna memaksimalkan potensi komoditas yang selama ini menjadi penopang hidup masyarakat pesisir di wilayah tersebut.
Upaya integrasi ini dipicu oleh berbagai kendala klasik yang selama ini menghambat produktivitas para petani rumput laut di NTT. Pada sektor hulu, para pembudidaya kerap dihadapkan pada masalah kelangkaan bibit unggul yang berkelanjutan. Selain itu, ancaman serangan penyakit ice-ice serta penurunan kualitas air laut akibat dampak perubahan iklim global turut memperburuk kondisi di lapangan. Kompleksitas masalah ini kian bertambah karena minimnya penerapan teknologi modern dan standar Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), serta pemanfaatan lahan budidaya yang belum maksimal.








