Peristiwa kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, pada 30 Juni lalu menjadi peringatan keras mengenai kerentanan tata kelola sampah di Indonesia. Dalam insiden tersebut, kobaran api melahap area timbunan sampah seluas kurang lebih 15 hektare dan membutuhkan penanganan intensif selama hampir dua pekan hingga api benar-benar padam. Peristiwa ini bukan kasus tunggal di fasilitas pembuangan akhir. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang tahun 2023 tercatat sedikitnya 30 TPA di berbagai wilayah Indonesia yang mengalami peristiwa kebakaran serupa. Rentetan insiden ini memperlihatkan risiko besar dari akumulasi gas yang terperangkap di dalam gunungan sampah.
Salah satu faktor utama di balik tingginya risiko kebakaran dan beban lingkungan TPA adalah pelepasan gas metana. Gas ini dikenal sebagai salah satu penyebab utama pemanasan global, dengan daya pemanasan sekitar 84 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam periode 20 tahun. Pembentukan metana berkaitan langsung dengan tingginya kandungan bahan organik yang terurai di dalam timbunan sampah. Gambaran mendalam mengenai komposisi ini terungkap melalui riset Studi SMART Waste Indonesia pada tahun 2025. Penelitian yang dilaksanakan oleh tim ilmuwan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan








