Layanan seluler generasi kelima telah hadir di tanah air sejak pertengahan 2021. Kendati demikian, perluasan aksesnya masih menghadapi jalan panjang dan penuh tantangan. Berdasarkan data terbaru, cakupan wilayah permukiman di Indonesia yang telah memiliki sinyal 5G baru mencapai angka 2,5 persen. Angka yang tergolong kecil ini menunjukkan bahwa adopsi teknologi internet cepat tersebut belum merata di seluruh wilayah pemukiman penduduk.
Dalam memetakan perkembangan jaringan 5g di indonesia kominfo memberikan lampu hijau bagi para operator seluler untuk mematikan sinyal 3G mereka. Kebijakan ini diambil agar industri telekomunikasi dapat memusatkan sumber daya untuk memperkuat jaringan 4G dan memperluas 5G. Dengan menghapus jaringan generasi ketiga tersebut, spektrum frekuensi 2.100 MHz dapat dialihkan guna memaksimalkan kapasitas layanan 4G maupun mendukung implementasi teknologi 5G yang lebih efisien bagi masyarakat.
Langkah migrasi frekuensi ini direspons secara beragam oleh para penyedia jasa telekomunikasi di tanah air. Indosat Ooredoo Hutchison telah menyelesaikan proses penonaktifan jaringan 3G mereka secara menyeluruh. Di sisi lain, Telkomsel sempat menunda target penyelesaian suntik mati jaringan 3G mereka yang semula dijadwalkan selesai pada tahun 2022 menjadi tahun 2023. Sementara itu, Smartfren tidak perlu melakukan proses serupa karena sejak awal sudah mengoperasikan layanannya secara penuh di atas jaringan 4G.
Gugatan Rp22.900 Triliun terhadap Meta, Memahami Kasus Induk Facebook dan Instagram

Tantangan teknis terbesar dalam penyediaan internet generasi kelima ini terletak pada kesiapan infrastruktur penunjang. Jaringan 5G membutuhkan koneksi backhaul yang andal melalui kabel fiber optik, bukan lagi menggunakan teknologi microwave. Tanpa adanya jaringan serat optik yang memadai untuk menghubungkan sensor-sensor pendukung, kecepatan tinggi yang dijanjikan oleh teknologi ini tidak akan terasa optimal oleh pengguna akhir di berbagai daerah.
Dari sisi regulasi dan perizinan, seluruh operator seluler utama yang beroperasi di Indonesia sebenarnya telah mengantongi Surat Keterangan Laik Operasi (SKLO) untuk menyelenggarakan layanan 5G. Surat izin ini diperoleh secara bertahap oleh masing-masing perusahaan. Telkomsel mendapatkan SKLO pada 20 Mei 2021, disusul oleh Indosat Ooredoo pada 4 Juni 2021, dan XL Axiata pada 5 Agustus 2021. Operator Smartfren pun turut mengantongi izin operasional tersebut. Meski seluruh operator telah memiliki izin resmi, hingga kini baru Telkomsel dan Indosat Ooredoo Hutchison yang secara komersial telah menyediakan paket khusus 5G bagi para pelanggannya.
Penerapan Irigasi Tetes Berbasis IoT oleh Universitas Akprind Indonesia di Magelang

Persoalan spektrum frekuensi juga sempat memicu kendala bagi pengguna perangkat telekomunikasi tertentu. Sebagai contoh, ketika lini ponsel pintar iPhone 12 dan iPhone 13 pertama kali masuk ke pasar Indonesia, kedua perangkat buatan Apple tersebut tidak dapat langsung terhubung ke jaringan 5G lokal. Hambatan ini terjadi karena handset Apple saat itu beroperasi pada spektrum 2,6 GHz, sedangkan pada masa tersebut layanan 5G di Indonesia dijalankan oleh Telkomsel, Indosat Ooredoo, dan XL Axiata pada spektrum frekuensi 2,1 GHz, 2,3 GHz, dan 1,8 GHz. Untuk menambah ketersediaan frekuensi di masa mendatang, program analog switch-off siaran televisi diharapkan mampu membebaskan spektrum frekuensi selebar 112 MHz pada pita 700 MHz yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat jaringan seluler.






