Berita Viral Terkini

Program Makan Bergizi Gratis Dongkrak Penjualan Perajin Tahu Tempe

Togar SiregarPublished 26 Jul 2026 - 12.060 Reads
Bagikan WhatsAppX
Program Makan Bergizi Gratis Dongkrak Penjualan Perajin Tahu Tempe
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Sajian sederhana seperti tahu dan tempe ternyata menyimpan kekuatan besar dalam menggerakkan roda ekonomi akar rumput. Di balik piring-piring makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada anak-anak sekolah, ada napas lega dari para perajin lokal. Program andalan pemerintah ini terbukti menjadi penyelamat bagi keberlangsungan usaha mikro tersebut, mendongkrak omzet yang sempat lesu ketika program ini sempat terhenti sementara waktu.

Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) mencatat adanya lonjakan permintaan yang cukup signifikan, yakni mencapai sekitar 20 persen sejak program MBG kembali digulirkan. Sekretaris Jenderal Gakoptindo, Wibowo Nurcahyo, mengungkapkan bahwa denyut nadi produksi para perajin sangat bergantung pada keberlanjutan program ini. Ketika program sempat mandek, penjualan mereka merosot tajam. Kini, dengan kepemimpinan baru di Badan Gizi Nasional (BGN), optimisme baru pun muncul seiring dengan pulihnya kurva penjualan tahu dan tempe di berbagai daerah.

Dampak positif dari kebijakan ini nyatanya tidak hanya memayungi para produsen tahu dan tempe. Sektor pangan lainnya, seperti peternak telur, juga kecipratan berkah yang sama. Hal ini terjadi karena tahu, tempe, dan telur merupakan menu wajib yang hampir selalu hadir dalam kotak makanan anak-anak peserta program. Bagi para perajin, kepastian pasar yang disediakan oleh program pemerintah ini menjadi angin segar di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kerap menekan pelaku usaha kecil.

Also Read

IHSG Jatuh ke Level 6.204 Setelah Ditekan Aksi Jual Investor Asing

Meskipun sempat berembus kabar miring mengenai keberadaan dapur MBG fiktif, Gakoptindo memastikan hal tersebut tidak mengganggu rantai pasok bahan baku ke dapur-dapur resmi yang benar-benar beroperasi. Wibowo, yang juga mengelola yayasan pengelola dapur MBG, menegaskan bahwa dapur bermasalah tersebut sejak awal memang tidak melakukan aktivitas produksi sehingga tidak menyerap pasokan dari perajin. Peningkatan permintaan sebesar 20 persen murni ditopang oleh jaringan dapur resmi yang aktif menyiapkan makanan setiap harinya.

Kendati demikian, jalan yang dihadapi para perajin tahu dan tempe tidak sepenuhnya mulus tanpa hambatan. Mereka masih harus bertarung dengan kenaikan biaya produksi yang terus mencekik, mulai dari ongkos logistik, harga bahan bakar, hingga harga bahan kemasan. Di sisi lain, menaikkan harga jual produk bukanlah pilihan yang bijak karena daya beli masyarakat umum saat ini masih sangat terbatas. Jika harga dinaikkan secara sepihak, para perajin khawatir produk mereka justru tidak akan laku di pasaran.

Also Read

Sektor Ekonomi Digital Menyumbang Pajak Rp54,71 Triliun hingga Juni 2026

Oleh karena itu, konsistensi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis menjadi harapan besar bagi jutaan perajin di seluruh Indonesia. Keberlanjutan program ini bukan sekadar tentang pemenuhan gizi generasi muda, melainkan juga tentang menjaga dapur para pelaku usaha kecil agar tetap mengepul. Melalui sinergi yang terus berjalan, tahu dan tempe tidak hanya menyehatkan anak-anak bangsa, tetapi juga memperkokoh fondasi ekonomi kerakyatan.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca