Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tajinya pada awal pekan ini. Berdasarkan data perdagangan pada Senin, 10 Agustus 2026, mata uang Garuda ditutup menguat cukup signifikan. Perkembangan ini memperpanjang tren positif yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir di pasar keuangan domestik.
Pada penutupan perdagangan hari Senin tersebut, rupiah terapresiasi sebesar 0,75 persen dan berakhir di posisi Rp17.750 per dolar AS. Penguatan ini menandai keberhasilan rupiah mencatatkan apresiasi selama empat hari perdagangan beruntun sejak 5 Agustus 2026. Sejak pagi hari, tanda-tanda penguatan sudah terlihat saat rupiah dibuka menguat 0,48 persen di level Rp17.800 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, nilai tukar bergerak fluktuatif di rentang Rp17.730 hingga Rp17.825 per dolar AS, sebelum akhirnya ditutup 50 poin lebih kuat dibandingkan dengan posisi pembukaannya.
Sentimen positif dari dalam negeri turut mendorong stabilitas mata uang. Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah kepastian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI). Istana secara resmi mengumumkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Presiden Prabowo Subianto telah mengirimkan surat terkait pencalonan ini kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, bahwa hanya ada satu nama tunggal yang diajukan oleh pemerintah.
IHSG Melemah pada Sesi I, Asing Catatkan Net Sell Rp774 Miliar

Langkah pemilihan ini diambil setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia pada 25 Juli 2026 karena alasan pribadi. Sejak saat itu, Destry Damayanti menjalankan tugas sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI. Meskipun nama Destry telah diajukan sebagai calon tunggal, ia masih harus melewati proses legislatif formal di DPR sebelum nantinya resmi dilantik sebagai Gubernur BI definitif. Kepastian nama calon tunggal ini memberikan sinyal keberlanjutan kebijakan moneter yang dinilai positif oleh pasar.
Di sisi lain, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, khususnya dari Amerika Serikat. Laporan ketenagakerjaan AS untuk periode Juli menunjukkan hasil di luar dugaan, di mana perekonomian negara tersebut justru kehilangan lapangan kerja. Selain itu, data ketenagakerjaan dari dua bulan sebelumnya juga mengalami revisi turun yang cukup tajam. Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi di AS.
Calon Gubernur Bank Indonesia Direspons Positif, Rupiah Berpeluang Menguat

Dampak dari melemahnya data sektor tenaga kerja tersebut langsung mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Peluang kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS pada pertemuan bulan September mendatang kini merosot hingga ke kisaran 44 persen, turun drastis dibandingkan dengan pekan sebelumnya yang sempat mencapai 67 persen. Di tengah situasi tersebut, indeks dolar AS (DXY) terpantau masih menguat tipis sebesar 0,12 persen ke posisi 99,656 pada pukul 15.00 WIB.
Meskipun rupiah mencatatkan kinerja gemilang dalam empat hari terakhir, ketidakpastian di masa mendatang tetap perlu diantisipasi. Arah pergerakan nilai tukar ke depan akan sangat bergantung pada bagaimana proses uji kelayakan calon Gubernur BI di DPR berlangsung, serta perkembangan data ekonomi global yang dinamis. Pelaku pasar perlu mencermati apakah tren penguatan ini dapat bertahan di tengah fluktuasi indeks dolar global.






