JAKARTA — Penurunan daya ingat sering kali dianggap sebagai bagian lumrah dari pertambahan usia. Namun, keluhan pikun yang tidak wajar dapat menjadi tanda adanya gangguan pada fungsi otak yang memerlukan penanganan medis, salah satunya indikasi demensia.
Alodokter menjelaskan bahwa pikun merupakan kondisi ketika daya ingat atau kemampuan memori seseorang mengalami penurunan. Kendati kemampuan mengingat dapat berkurang seiring bertambahnya usia, tidak semua orang lanjut usia dipastikan akan mengalami pikun. Kewaspadaan perlu ditingkatkan saat gangguan ingatan berkembang semakin berat hingga menghambat aktivitas harian penderitanya.
Kondisi demensia sendiri merupakan kumpulan gejala penurunan fungsi otak yang mencakup gangguan daya ingat, proses berpikir, perilaku, serta perubahan kondisi mental dan emosional. Pada tahap yang lebih parah, penderita bahkan dapat mengalami kesulitan mengenali orang-orang terdekat di sekitarnya.
Tok! DPR Setuju Anggaran Kemenkeu 2027 Rp49,8 Triliun, Ini Rinciannya

Demensia dapat dipicu oleh sejumlah kondisi medis, mulai dari penyakit Alzheimer, Parkinson, diabetes yang tidak terkontrol, hingga demensia vaskular akibat serangan stroke. National Institute on Aging (NIA) turut menggarisbawahi perbedaan antara lupa akibat proses penuaan normal dengan gejala demensia, serta pentingnya langkah-langkah dalam menjaga kesehatan otak.
Selain penyakit degeneratif dan vaskular, gejala pikun dapat dipicu oleh faktor-faktor lain, seperti cedera kepala berulang, defisiensi vitamin B1 atau B12, infeksi otak, tumor otak, penyakit autoimun, penyakit keturunan, serta beberapa penyakit langka. Faktor gaya hidup, termasuk kebiasaan mengonsumsi alkohol secara berlebihan dan riwayat penyalahgunaan obat-obatan terlarang, turut berkontribusi memperburuk fungsi kognitif.
Guru di Jombang Diduga Perkosa Siswinya 13 Kali, Polisi Selidiki

Penanganan demensia pada umumnya diarahkan untuk meringankan gejala yang muncul sekaligus mencegah kondisi pasien semakin memburuk. Salah satu pendekatan yang dapat diberikan adalah terapi stimulasi kognitif (cognitive stimulation therapy/CST). Terapi ini melibatkan aktivitas yang merangsang fungsi otak, seperti permainan kata dan angka, membaca, menggambar, memasak, serta aneka kegiatan kreatif lainnya.
Guna mengantisipasi kebutuhan masyarakat dan potensi lonjakan pasien yang membutuhkan pemeriksaan, fasilitas kesehatan beroperasi 24 jam untuk melayani konsultasi serta penanganan medis lanjutan.






